Melatih Kemandirian : Hari ke 5

Awan mendung mengelayuti Batam hari ini. Pakaian yang sudah dicuci 3 hari lalu dan baru dijemur kemarin baru saja kering. Belum sempat dilipat sudah menunggu pakaian kotor menggunung yang seakan akan berteriak ingin dicuci. Ditambah lagi duo krucils yang hari ini entah sudah berapa kali berganti baju. Baju yang basah karena asyik bermain air, bermain pasir dan kotor ketumpahan makanan mereka.

Hari ini si sulung ingin bermain pasir. Bermain pasir dan tanah adalah mainan favorit mereka. Daripada berkotor ria dengan pasir depan rumah. Ditambah rintik hujan menyapa. Saya pun membuatkan pasir kinetik handmade ala- ala. Pasir kinetik buatan sendiri dari tepung terigu. Ditambah sedikit air dan minyak dan pewarna makanan.
Dibalik kebahagiaan duo krucils yang bahagia main pasir didalam rumah, ada seorang ibu yang stress memikirkan tugas membereskan kekacauan yg akan ditimbulkan. Dengan riangnya mereka menghamburkan pasir- pasir tsb ke penjuru rumah. Emak hanya menatap nanar dan mengelus dada.

Pesta main pasir pun usai, saya yang sedang berjibaku didapur hanya mengamati saat si sulung dengan inisiatif sendiri mengambil sapu dan alat pel. Walau saya tau sebenarnya ini akan menambah kekacauan tapi saya biarkan sambil beristighfar agar nada suara tak meninggi melihat tetesan air dimana mana yang berpotensi membuat mereka terpeleset. Berusaha dengan nada suara yang datar memperingatkan mereka agar hati- hati.

Sejujurnya ingin saya ambil alih saja, karena bukan nya menjadi bersih malah lantai rumah menjadi semakin lengket karena perpaduan antara air, terigu dan tepung. Saya pun takut mereka terpeleset, namun saya ingin mengajarkan sang sulung  kemandirian agar dapat bertanggung jawab membereskan kekacauan yang mereka buat setelah bermain. Dan juga mengajarkannya agar cakap dalam menyapu dan mengepel lantai rumah.
Dan benar saja setelah adiknya yang terpeleset disusul sang kakak menangis karena hal yang yang sama.
Walaupun bagian mengepel ini saya ulangi kembali karena masih kotor dan lengket tapi setidaknya saya sudah memberikan nya kesempatan untuk membereskan.
Saat dia bilang dengan wajah bangga, "Mba biya bisa kan nyapu sama ngepel  bunda".
Disitu saya merasa bahwa keputusan untuk memberikan nya kesempatan untuk bertanggung jawab membereskan "hasil karya nya" adalah keputusan yang tepat.
"Terima kasih ya nak, mba biya pintar sudah bisa nyapu dan ngepel", jawab saya sambil menatap mata nya yang berbinar bahagia.

#Hari5
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hari

Mager

Cerita tetangga lahiran