Keutamaan Orang Yang Berilmu

🔰 *Sambutan untuk Peserta Grup WhatApss Dirosah Islamiyah*
Senin, 22 Rajab 1439H / 09 April 2018M.

▪Oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

Kepada seluruh anggota group whatsapp Dirosah Islamiyah di mana pun anda berada.

Ahlan wa sahlan wa marhaban bikum, selamat datang dalam group yang kita harapkan diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ini.  Kita berharap dengan group ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla menambahkan ilmu dan ketakwaan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

▪Karena, sungguh orang yang berilmu itu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu.

📖 Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Artinya:
Katakanlah, apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?  (Az Zumar: 9)

Jawabannya tentu saja tidak sama.

→ Dalam segala hal tidak sama, baik dalam perilaku, dalam tutur kata, dalam ibadah, dalam meraih pahala, dalam kekusyukan di dalam salat.

→ Ketika di alam barzah dibedakan, dan apalagi di akhirat, tentu akan dibedakan.

√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan tidak sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, maka tentu saja tidak sama.

→Jika anjing berilmu saja Allāh Subhānahu wa Ta’āla bedakan dengan anjing yang tidak berilmu, apalagi manusia yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

📖 Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ...

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh anjing yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas anjing pemburu itu (waktu melepaskannya).  (Q.S. AL Maidah: 4)

» Jadi dalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjelaskan kalau anjing sudah kita ajari, maka anjing itu berilmu, kemudian kita lepaskan anjing itu untuk berburu dan kita mengatakan bismillah, maka hasil buruannya halal bagi kita memakannya, meskipun yang membunuh buruan itu adalah anjing.

→ Tetapi bila anjing tersebut tidak kita ajari, sehingga anjing itu tidak berilmu, kemudian ia berburu, maka hasil buruannya haram untuk dimakan.

📝Ini adalah dalil bahwa  Allāh Subhānahu wa Ta’āla membedakan antara anjing yang berilmu dengan anjing yang tidak berilmu.

→Jika hewan saja Allāh Subhānahu wa Ta’āla bedakan antara yang berilmu dengan yang tidak berilmu, apalagi manusia yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

📌 Sungguh perkara ilmu itu di dalam Al Quran adalah perkara yang sangat agung, sampai-sampai Allah membedakan antara orang beriman yang berilmu dengan orang beriman yang tidak berilmu.

📖 Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujaadilah: 11)

▪Para ulama berkata, orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu diangkat beberapa derajat di atas orang-orang yang hanya sekedar beriman saja, namun tidak berilmu.

○ Karena itu pula dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وَ فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرَ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبَ

Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah (yang tidak berilmu) adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan dengan seluruh bintang-bintang.

» Bulan cuma satu, tetapi bulan itulah yang cahayanya sampai ke bumi. Bulan itulah yang menerangi bumi. Dibandingkan dengan ribuan atau jutaan bintang, bulan yang satu itu lebih utama. 

√ Karena itulah, terkadang satu orang yang berilmu lebih dibutuhkan oleh umat daripada ribuan ahli ibadah.

→ Oleh karenanya ini menunjukkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla membedakan antara orang yang berilmu –yang tentu juga beriman- dibandingkan dengan orang yang beriman tanpa ilmu.

📖 Demikian juga dalam Al Quran, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman, 

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Allah menyaksikan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang- orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tak ada ilah melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

» Pada ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mempersaksikan sesuatu yang agung, yaitu kalimat tauhid laa ilaha illallahu, tiada yang berhak disembah kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

» Allāh Subhānahu wa Ta’āla mempersaksikan akan kebenaran kalimat tersebut, dan untuk menguatkan hal tersebut Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga menyertakan persaksian para malaikat kemudian persaksian orang-orang yang berilmu.

→ Di sini Allāh Subhānahu wa Ta’āla menggandengkan antara persaksian Allāh, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu.

√ Maka hal ini tentu bukan hal yang sepele, di mana Allāh mengandengkan persaksian orang-orang yang berilmu dengan persaksian Allāh dan persaksian para malaikat.

→ Ini menunjukkan keagungan orang-orang yang berilmu.

📖 Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman dalam Al Quran,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya berjihad (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
(Q.S. At Taubah: 122)

» Pada ayat ini Allāh mengatakan tidak layak seluruh muslim pergi berjihad, tetapi harus ada sebagian yang menuntut ilmu.

→ Allāh menggandengkan antara jihad dengan pedang dengan menuntut ilmu. Sehingga para ulama mengatakan bahwa menuntut ilmu juga termasuk salah satu bentuk jihad, yaitu jihad dengan lisan, dengan dalil, dengan argumentasi.

▪Bahkan dalam suatu ayat Allāh menamakan jihad dengan ilmu ini sebagai jihaadan kabiira.

📖 Allah berfirman,

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (٥٢)

Maka janganlah kamu menaati orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar. (Q.S. AL Furqaan: 52)

» Ayat ini turun di Makkah di mana pada waktu itu belum disyariatkan berjihad dengan pedang. Tetapi Allāh menyuruh Nabi berjihad kepada orang-orang kafir dengan Al Quran, dengan ilmu. Kemudian Allah menamakan jihad tersebut dengan jihaadan kabiira atau jihad yang besar.

▪Di zaman kita sekarang ini, lebih banyak kesempatan bagi kita untuk berjihad dengan ilmu dibandingkan jihad dengan pedang, terutama di negara-negara minoritas muslim dan negara-negara kafir.

Betapa banyak orang yang masuk Islam melalui perantaraan para dai yang berjuang menyebarkan ilmu baik melalui ceramah-ceramah maupun melalui media sosial.

→ Maka sekarang ini, berjihad dengan ilmu bukanlah perkara yang sepele, dan bahkan merupakan perkara yang penting.

▪Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu sangatlah banyak.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.

○ Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِيدِ اللهِ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan baginya, Maka Allah akan menjadikan dia paham tentang agama.

» Para ulama menjelaskan bahwa kata خيرا di sini adalah nakirah, yaitu tanwin.

Sedangkan nakirah atau tanwin yang datang dalam konteks syarat seperti hadits ini, maka ia memberikan faidah keumuman.

√ Sehingga hadits di atas dapat diartikan, barangsiapa yang dikehendaki baginya segala kebaikan, maka Allāh akan menjadikannya paham tentang agamanya.

→ Karena jika seseorang telah tenggalam ilmu agama, berarti Allāh menginginkan banyak kebaikan baginya.

→Karena dengan ilmu agama tersebut, akan terbuka baginya cakrawala tentang pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak, akan terbuka baginya mana prioritas yang harus lebih diutamakan dalam beramal shalih.

√ Dengan demikian, sungguh orang yang diberi kefaqihan tentang agama, berarti kepadanya telah diberikan segala kebaikan.

» Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa tanwin pada kata khairan bermakna li tafkhiim, yaitu untuk membesarkan.

→ Artinya, kebaikan yang Allāh kehendaki baginya adalah kebaikan yang spesial, kebaikan yang terbaik, dan bukan sembarang kebaikan.

√ Oleh karenanya Allāh telah memulian rasul-Nya dengan ilmu, karena kebaikan yang diraih dengan ilmu adalah kebaikan yang spesial/khusus, dan bukan sembarang kebaikan.

○ Di antara hadits lain yang juga menunjukkan keagungan ilmu adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,

مَنْ سَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنِّةِ

Artinya:
Barangsiapa yang melangkahkan kakinya untuk menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.

» Hadits ini juga merupakan hadits yang menakjubkan. Kita tahu bahwa sebagian ibadah yang kita lakukan seperti, kita jalan ke masjid, jalan untuk umrah, jalan untuk berbakti kepada orang tua, dan sebagainya, semua langkah kita itu akan memudahkan kita untuk ke surga.

→Tetapi dalam hadits ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hanya mengkhususkan kepada penuntut ilmu, bukan yang lain.

√ Karena kata para ulama, jalan termudah untuk masuk surga adalah jalan dalam rangka menuntut ilmu.

📌 Karena sebagaimana disebutkan di atas, bahwa :
√ dengan menuntut ilmu akan terbuka cakrawala pintu-pintu kebaikan.

√ Dengan ilmu pula akan jelas mana prioritas yang terbaik dibandingkan yang baik.

√ Dengan ilmu kita bisa terhindar dari berbagai kemaksiatan.

√ Dengan ilmu kita bisa terhindar dari berbagai macam syubhat.

➡ Maka jalan termudah untuk meraih surga adalah dengan jalan menuntut ilmu.

📝 Allāh akan memudahkan jalan menuju surga bagi para penuntut, baik di dunia dan terlebih lagi di akhirat, yaitu ketika kita dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan menghadapi ujian-ujian ketika dihisab, ketika di mizan, dan di atas shirat.

➡ Maka barangsiapa yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya  menuju surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

▪Oleh karena itu wahai para anggota Group Whatsapp Dirosah Islamiyah yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ini adalah muqaddimah dari kegiatan kita.

Pendahuluan ini semoga membuat kita semakin semangat untuk menuntut ilmu dan kita berusaha meniatkan kegiatan kita ini hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

🚫Tidak kita menuntut ilmu  untuk berbangga-bangga, untuk gagah-gagahan, dan sejenisnya.
➡ Tetapi kita menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan kita sedikit demi sedikit dan dalam rangka untuk mendekatkan diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

🍃Semoga group Whatsapp ini diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وبالله توفيق و الهداية، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*Madinah, Kota Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hari

Mager

Cerita tetangga lahiran