Keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik anak
Materi Kulwap
Tema: *Keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik anak*
Oleh: Teh Kiki Barkiah
Kesabaran dalam menghadapi anak-anak tidaklah ditentukan oleh skill atau bakat yang dimiliki seseorang. Bagi mereka yang sudah memiliki paradigma "saya itu gak sabaran orangnya" biasanya lebih sulit untuk melakukan hal diluar paradigma tersebut. Sebaliknya, orang yang kita kenal begitu sabar dalam menghadapi situasi pelik dimana orang lain pada umumnya menghadapi secara emosional, bukan berarti selamanya atau selalu dapat bersikap sabar. Terkadang ada beberapa keadaan yang dapat memicu orang-orang yang sabar menjadi kurang sabar.
Kesabaran dalam menghadapi permasalahan seputar anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terkadang pengetahuan kita dalam ilmu dunia pengasuhan anak belum cukup untuk menjadi bekal dalam melakukan pengasuhan anak secara sabar. Untuk itu bagi kita yang ingin mengubah pola pengasuhan anak dengan lebih sabar, beberapa hal yang mungkin perlu kita bangun untuk mempertebal kesabaran kita dalam menghadapi anak- anak. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Orang tua yang menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah biasanya akan lebih waspada dalam memilih sikap dan langkah yang tepat dalam membimbing anak-anak mereka. Dalam perjalanannya, berbagai tantangan,ancaman dan gangguan akan ditemui. Namun dengan melihat tujuan yang lebih besar dibaliknya, orang tua akan berusaha mempertebal kesabaran mereka dalam menghadapi setiap tantangan, ancaman dan gangguan yang akan muncul dalam menjalankan amanah sebagai orang tua. Sebaliknya, tanpa cara pandang ini sikap menyerah akan lebih mudah mewarnai perjalanan kita sebagai orang tua.
2. Orang tua yang menyadari bahwa Allah memerintahkanya untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa api neraka akan lebih berusaha bersabar terhadap segala ketidaknyamanan yang dialami di dunia karena merasa lebih tidak sanggup dalam menghadapi ketidaknyamanan kelak di akhirat. Maka untuk mempertebal kesabaran kita dalam dunia pengasuhan anak kita perlu sering mengingat firman Allah SWT berikut ini :
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6
3. Orang tua yang memiliki cara pandang bahwa anak adalah karunia dan sarana beribadah kepada Allah akan memiliki tingkat kesabaran yang lebih besar dibanding mereka yang mengangap bahwa anak adalah beban, tambahan anak adalah tambahan beban, atau cara pandang bahwa memiliki tambahan anak akan menghambat pencapaian harapan dan cita citanya.
4. Suami istri yang memiliki hubungan yang harmonis dan kerjasama yang kuat biasanya memiliki tingkat kesabaran yang lebih tinggi dibanding mereka yang yang memiliki permasalahan dalam hubungan suami istri atau bagi mereka yang melakukan pengasuhan anak tanpa kerjasama dari kedua belah pihak. Banyak kasus terjadi dimana ketidaksabaran dalam menghadapi anak-anak lebih karena luapan perasaan negatif yang ditumpuk oleh seseorang terhadap pihak lain dibanding terhadap anak itu sendiri, salah satunya adalah permasalahan terhadap pasangannya.
5. Orang tua yang menjalankan pekerjaan dengan perasaan nikmat serta dengan tingkat kesibukan yamg wajar biasanya memiliki tingkat kesabaran yang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki tingkat stress yang tinggi dalam hal pekerjaan. Oleh karena itu penting sekali mengatur porsi kesibukan dalam pekerjaan yang sesuai dengan tingkat usia anak anak yang dimiliki
6. Permasalahan dan ujian kehidupan yang memunculkan beban pikiran seperti himpitan ekonomi, tekanan lingkungan dll biasanya mempengaruhi tingkat kesabaran orang tua dalam menghadapi anak-anak. Oleh karena itu penting sekali mempertebal tingkat ketakwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan sikap saling kerjasama antara suami dan istri saat mengalami permasalah kehidupan agar tidak mempengaruhi tingkat kesabaran dalam pengasuhan anak-anak.
7. Orang tua yang memiliki pengetahuan tentang tahap perkembangan anak yang normal biasanya lebih mampu menempatkan ekspektasi secara tepat. Pengetahuan ini akan melahirkan sikap kesabaran dalam menghadapi anak anak karena menyadari bahwa hal yang dihadapinya adalah sebuah kewajaran yang banyak dihadapi oleh orang tua lainnya. Oleh karena itu mempelajari ilmu menjadi orang tua akan membantu kita untuk lebih bersabar dalam menemani tumbuh kembang anak serta membimbing mereka menjadi pribadi yang lebih baik seperti apa yang diharapkan.
8. Orang tua yang memiliki kesamaan visi dengan lingkungan sekitar seperti kerabat, saudara,tetengga dan pihak sekolah dalam pola asuh anak biasanya memiliki tingkat stress yang lebih minim dibanding mereka yang memiliki perbedaan visi yang terkadang sering menimbulkan konflik. Oleh karena itu membangun lingkungan yang memiliki kesamaan visi misi dalam dunia pengasuhan anak menjadi kebutuhan yang sangat penting agar dapat mengaplikasikan ilmu parenting yang dimiliki dengan penuh kesabaran.
9. Orang tua yang memiliki tingkat kelelahan yang tinggi atau kondisi fisik yang tidak prima biasanya lebih sulit untuk menghadapi anak-anak secara sabar. Oleh karena itu penting sekali menyederhanakan pola kehidupan harian atau menyediakan berbagai sarana prasana yang membantu meringankan pekerjaan.
10. Anak-anak yang memiliki segudang aktifitas yang teratur dan terarah biasanya dapat menyalurkan energi mereka secara lebih tepat. Sehingga meminimalisir terjadinya perilaku-perilaku negatif yang biasanya muncul karena perasaan bosan atau tidak memiliki ide dalam berkegiatan. Oleh karena itu menyediakan berbagai sarana dan prasarana untuk membuat anak-anak sibuk dalam kegiatan positif sangat membantu kita untuk terhindar dari berbagai konflik yang menguji kesabaran kita.
11. Orang tua yang memiliki tuntutan pekerjaan yang bertenggat waktu biasanya akan memaksa anak-anak untuk mengikuti ritme pekerjaan yang ada. Oleh karena itu penting sekali untuk mengatur waktu pelaksanaan pekerjaan agar tidak dilaksanakan dengan terburu-buru yang biasanya mengurangi kesabaran kita dalam menghadapi anak-anak.
Hal-hal yang dipaparkan diatas hanyalah sebagian dari hal-hal yang dapat membantu meningkatkan kesabaran kita dalam mengasuh anak-anak. Dari pemaparan ini sangat jelas bahwa kebanyakan ketidaksabaran orang tua dalam menghadapi anak-anak yang berujung pada kemarahan atau penganiyaan fisik biasanya bukan lebih disebabkan oleh kesalahan anak itu sendiri melainkan keadaan yang dialami oleh orang tuanya. Sehingga anak hanyalah korban pelampiasan emosi negatif orang tua yang ditimbulkan dari permasalahan yang sedang dihadapinya. Terakhir, jangan lupa untuk selalu memohon kepada Allah agar Allah memberikan kemudahan, kesabaran, keberkahan, serta akhir yang baik dalam menjalankan amanah kita sebagai orang tua. Aamiin
Silicon valley, California
Kiki Barkiah
Pertanyaan
1⃣ Rika Amelia
Assalammualaikum, masya Allah tabarakallah...kulwap yang saya nanti2 kan.. Kesabaran menghadapi anak...
Assalamualaikum Bunda Kiki, saya memiliki 2 orang anak (5 th 8 bl) (3 th 11 bl) akhir2 ini kesabaran saya d uji... Sibling rivalry... Setiap hari ada aja yang menjadi bahan rebutan mereka, hal2 kecil yg kita anggap sepele, bisa menjadi besar.. Sikap egois, tidak mau mengalah satu sama lain, makin membuat suasana menjadi panas...
Ditambah lagi saya dan suami tidak bisa bekerja sama karena beliau bekerja di luar kota, Baru pulang setelah 14 hari kerja. Kesabaran saya betul2 diuji. Di poin no. 6 tentang kerja sama. Bagaimana caranya ya bunda.. Walau jarak yang berjauhan kami bisa bekerja sama mengasuh anak dan membersamai anak? Serta bagaimana cara mengatasi sibling rivalry?
Terima kasih untuk jawabannya bunda...
Jawaban
Apa yang terjadi di anak adalah kasus yang umum terjadi di anak anak. Selama anak masih dalam Masa egosentris dan masih berproses untuk menjadi bijaksana, maka KONFLIK pertengkaran diantara mereka sangat rentan terjadi. Namun kondisi LDR ibulah yang membuat in rentan mengeluarkan emosi negatif.
Tips Memaksimalkan Waktu Bagi Pasangan LDR
by Kiki Barkiah
1. Install dalam pikiran kita bahwa LDR saat ini adalah bagian dari takdir hidup kita, perjalanan pernikahan kita, dan insya Allah keadaan ini adalah pilihan terbaik yang Allah pilihkan saat ini. Mengeluhkan nasib LDR atau bertanya mengapa hal tersebut harus terjadi pada diri kita akan menguras energi dan menghabiskan waktu yang kita miliki.
2. Luangkan waktu untuk berkomunikasi setiap hari, pisahkan waktu antara komunikasi ayah dengan anak-anak dan komunikasi khusus antara ibu dan ayah. Anak-anak membutuhkan interaksi dengan ayahnya, begitu juga dengan istri, membutuhkan waktu khusus untuk berbicara dengan suaminya.
3. Bagi para suami yang tidak memiliki keluangan waktu dan kesempatan untuk bisa di hubungi pakan saja dan dimana saja, maka sebaiknya pasangan LDR membuat perjanjian waktu yang disepakati untuk melakukan komunikasi. Semua anggta keluarga disiapkan untuk dapat berinteraksi dalam waktu tersebut layaknya pertemuan keluarga
4. Saat anak-anak sudah merasa puas berkomunikasi dengan sang ayah, maka sebaiknya ibu menyiapkan kegiatan khusus bagi anak-anak agar bisa berkomunikasi secara khusus dengan suami. Komunikasi via telpon dengan suami memiliki kesan yang berbeda dengan komukasi secara langsung di mata anak-anak. Anak-anak akan lebih merasa ditinggalkan sang ibujika ibu sibuk berkomunikasi di depan telepon walaupun menelpon ayahnya. Anak-anak yang berusia kecil biasanya memiliki kecemburuan tertentu seperti layaknya kecemburuan mereka saat sang ibu memegang gadget. Mungkin jadwal khusus berkomunikasi pasutri bisa dilakukan saat anak-anak tidur.
5. Optimalkan waktu yang dimiliki ayah untuk berintirahat, agar saat waktu berkunjung ke keluarga dapat dioptimalkan untuk bercengrama dan berlibur. sebagian istri mengeluh tentang kondisi LDR karena waktu berkunjung keluarga dimanfaatkan para suami untuk tidur istirahat, sehigga mereka merasa tidak terpenuhi kebutuhan emosinya.
6. Buat anak merasa bahwa ayah terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan baginya. Beri ayah kesempatan untuk memutuskan hal-hal besar terkait dengan pengasuhan dan pendidikan anak serta buat anak mengetahui bahwa keputusan tersebut berasal dari ayahnya. Misal sang ibu meminta anak-anak menelpon dan bertanya pada ayahnya untuk keputusan tertentu.
7. Bagi pasangan LDR yang memiliki anak-anak kecil, memutarkan video-video kegiatan keluarga kepada anak-anak balita akan membantu untuk menguatkan figur ayah. sering-seringlah memutar video ayah agar anak-anak merasa bahwa ayah menjadi bagian dari kehidupannya
*Teh Kiki Barkiah*
Kerumitan kondisi dalam pengasuhan ibu juga karena kedua ananda masih berada di masa egosentris. Belajar berbagi adalah sebuah proses. Terimalah bawah fasa egosentris adalah bagian dr perjalanan hidup anak-anak. Bahkan itu sangat penting bagi masa depan mereka. Ada banyak anak yang mengalami masalah perilaku di kemudian hari ketika masa masa ini tidak diakui, dihargai, bahkan ia "dipaksa" bersikap dewasa saat ia anak-anak
Maka yang lebih utama dalam menghadapi ananda berusia 19 bulan ya dengan managemen lingkungan yang minim menimbulkan konflik. Kita perlu mensetting panggung agar tidak rawan konflik karena berebut.
Pahami penyebab anak bertengkar:
1. Masih perlu belajar untuk berbagi
2. Adanya kecemburuan antara kakak dan adik
3. Masih berproses untuk bisa bersikap bijaksana dalam menyelesaikan persoalan
4. Mencuri atensi orang tua yang sedang memiliki kesibukan sendiri. Karena ia merasa hanya dengan membuat onar, atensi orang tua bisa mereka dapatkan.
Setelah mengetahui penyebab kita bisa lebih bijak menyelesaikannya. Atasi akar masalahnya agar frekuensi bertengkar berkurang. Sehingga emosi ibupun tidak terkuras untuk mendamaikan mereka.
Beberapa upaya untuk menghindari konflik berebut mainan:
1. Perbanyak koleksi mainan yang bisa dimainkan secara bersama, bukan bersifat individu sehingga mengurangi resiko berebutan
2. Anak yang berusia lebih besar harus lebih banyak diberikan pengertian bahwa sang adik masih belum paham arti berbagi. Hargai ketika ia menolak mengalah, namun apresiasilah saat ia mau mengalah. Jangan memaksa anak yang lebih besar untuk mengalah, namun minta tolong dan tawarkanlah sekiranya ia mau mempermudah urusan
3. Settinglah panggung untuk menghindari kemungkinan perselisihan karena berebut mainan, seperti menyembunyikan mainan yang berpotensi menjadi rebutan di saat tertentu, atau meminta kakak memainkan mainan tertetu saat sang adik tidur
4. Jangan pernah bosan mengajarkan anak bersikap lebih bijak dan melatih mereka untuk melihat permasalahan dari sudut pandang lain yang lebih baik, jangan juga berputus asa saat anak-anak masih cenderung mengulangi kesahannya.
5. Atasi kecemburuan kakak yang menjadi penyebab seringnya muncul konflik antara dirinya dan adiknya seperri meluangkan waktu khusus untuk memperhatikannya
6. Insya Allah dengan teladan yang baik, kasih sayang dan perhatian yang cukup serta nasihat yang disampaikan dengan cara yang baik dan disampaikan di waktu yang tepat, suatu saat akan membuahkan hasil
Berikut tips saat menghadapi kejadian perkelahian antar saudara karena berebut mainan.
1. Ajarkan anak untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan lagi. Namun membalas keburukan dengan keadilan
2. Jangan menegakan disiplin dalam keadaan anak tidak tenang seperti dalam keadaan marah atau rewel
3. Ajak anak menenangkan diri sebelum mengajak bicara tentang masalahnya, lalu ajak mereka mencari solusi atau tawarkan win win solution
4. Jangan paksa anak berusia balita untuk berbagi, karena mereka butuh waktu untuk mengerti arti berbagi, namun ajarkan anak untuk meminta ijin
5. Hargai privasi anak, jika sesekali ia tidak sedang ingin membagi miliknya. Namun alihkan dengan tawaran lain secara kreatif sehingga yang menangis bisa terhibur
6. Jangan berlakukan aturan bahwa kakak harus selalu mengalah, namun tempatkanlah masing2 sesuai dengan haknya
7. Apreasiasi saat salah seorang diantara mereka mau berbagi atau mengalah, sehingga mereka mengerti bahwa itu adalah perilaku baik yang diharapkan
8. Apresiasi semua pihak yang menawarkan solusi kemudahan dalam setiap permasalahan
9. Tawarkan solusi bergantian dengan menggunakan waktu, lalu lakukan dengan komitmen sampai jatah gilirannya habis, meski dengan membiarkan anak lain tantrum. Jika ia tantrum berbahaya, tahan tubuhnya atau singkirkan dari segala benda yg membahayakan
10. Jika bergantian sebelum waktu yg ditentukan, maka pastikan hal itu merupakan kerelaan dr pihak yang lain
11. Buat durasi waktu giliran yang tidak lama untuk menghindari kemungkinan masalah yang memburuk akibat ketidaksabaran menunggu
12. Jika anak tidak mau kompromi katakan dengan baik "bunda tidak mau mainan yang bunda belikan membuat kita jadi bertengkar, bunda simpan dulu ya mainannya sampai kalian mau tenang, berbagi, atau gantian"
13. Turunkan mainan kembali saat mereka tenang lalu biacarakan kembali ttg solusi (misal gantian dgn durasi waktu tertentu)
14. Ajari anak meminta maaf bagi yang salah dan mengucapkan terimakasih kepada pihak yang memberi kemudahan
15. Jangan mendisiplinkan anak yang melakukan kekerasan dgn kekerasan lagi, namun pisahkan sementara untuk memintanya tenang, kemudian ajari ia mengungkapkan keinginannya melalui perkataan yang baik
15. Gunakan teknik "time out" jika permasalahan memburuk, ini sekaligus merupakan kesempatan untuk semua pihak menenangkan diri
16. Agar teknik time out berjalan efektif, pastikan anak yang sedang di time out merasa rugi kehilangan kesempatan mengikuti kegiatan untuk beberapa saat
17. Sudut yang dipilih untuk time out harus yang membosankan tetapi tidak boleh menakutkan apalagi mengasyikan
18. apresiasi anak-anak saat kita menemukan mereka bermain dengan damai, dengan itu mereka mengerti bahwa itu yang kita harapkan
19. jangan lupa doakan anak-anak memiliki kelembutan hati untuk hidup damai bersaudara.
Teknik Time Out
Sebenernya istilah teknik time out sendiri kalo di dalam parenting digunakan sebagai salah satu cara meluruskan perilaku anak. Makna sederhananya adalah memberi ruang dan waktu until menenangkan diri, menyadari perilaku sehingga kemudian bisa diajak berfikir jeenih dalam merespon masalah.
Saya pinjam istilah ini untuk para ibu yang kadang membutuhkan kesempatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu saat emosi sedang memuncak agak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin
2⃣ Ummu Akhfa
Bagaimana trik2 agar dapat menanamkan jiwa suka ibadah pada anak.. Terutama sholat, berdo'a dan tilawah...
Krn sementara ini tilawahnya jalan tp masih pakai reward.. (Usia anak sy 6,10 - 4,2 - 2,9)
Kl abangnya sholat, tilawah atw do'a biasanya adiknya ikut2an... Tpi menumbuhkan kesadaran pd abang masih blm baik... Rata2 masih tertuju pd iming2 spt hadiah atw diajak jalan2, atw boleh main keluar rumah. Jd kl tdk ada iming2 biasanya malas2an atw malah terus mengelak untuk melakukan kebaikan.
Mohon saran dan triknya teh..
Jawaban
Penting sekali kita menyertakan pesan Allah dan Rasulullah SAW dalam memberi nasihat, meskipun untuk usia dini anak perlu dibarengi penjelasan dan sebab akibat yang lebih konkrit dam dekat dengan kehidupan mereka. Sejalan dengan usia anak akan berproses untuk bisa beramal ikhlas karena Allah. Namun upayakan mendahalukan kabar gembira dibanding ancaman ya sebagaimana hadist Rasulullah SAW
Dari Ibnu Abbas r.a: Rasulullah SAW, “ajarilah, permudahlah, jangan engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya diam” (H.R Ahmad dan Bukhori)
Terkait dengan hal yang konkrit, terkadang hadiah sebagai apresiasi dari latihan ibadah juga mewarnai prosesnya. karena bagi anak usia dini konsep pahala dan dosa masih abstrak.
Anak membutuhkan waktu untuk belajar ikhlas. Rasulullah pun sering memberikan hadiah kepada anak-anak. Jadi reward hanya bumbu tambahan dalam proses pengasuhan. Tentunya tergantung kemahiran kita dalam mengkomunikasikan reward.
Jangan lupa yang utama adalah memberikan pemahaman tentang keutamaan amal serta menginternalisasikan nilai-nilai ilahiah kedalamnya. Sejalan dengan usia mereka, mereka tidak membutuhkan reward. Mereka akan paham bahwa Allah yang menilai. Tapi anak membutuhkan waktu untuk bisa mencapai maqom seperti itu.
Untuk itu setiap kesetujuan atau ketidaksetujuan kita jangan lupa sertakan pesan Allah dan Rasulullah didalamnya walaupun mereka membutuhkan waktu untuk mencernanya.Ada juga yang merekomendasikan untuk memberikan hadiah sebagai kejutan setelah beramal. Sehingga bukan sebuah iming-iming agar mereka mau melakukan sebuau amal. Inti dari reward adalah penyataan persetujuan kita terhadap sikap mereka serta bentuk ungkapam bahagia kita melihat mereka melakukan kebaikan. Bentuknya pun tidak harus barang. Terkadang acara bersama keluarga pun bisa menjadi hadiah isimewa bagi anak. Sejalan dengan usia bentuk hadiah sebagai ungkapan bahagia kita akan berubah. Tentunya memberikan kejutan ice cream untuk anak yang sudah selesai menghafak 30 juz agak kurang berimbang, tapi memberikan tiket umroh kejutan sebagai tanda bahagia kita sepertinya sangat mengasyikan bagi siapapun.
Tanggapan
Jadi sedini mungkin tetap ditanamkan mengenai keikhlasan dalam beramal ya teh...? Bkn beramal krn sebuah iming2?
Justru yg baik kita memberikan hadiah sbgai kejutan sewaktu2?
Jawaban
Tapi jangan menuntut hasil sekarang.
Katakan bahwa Allah memberi pahala, kemudian karena kita bahagia ibu memberi hadiah. Jadi Allahnya jangan ketinggalan.
3⃣ Hanifah Heni Dayati
Saya ibu 3 anak. Pertanyaan saya: bagaimana cara agar konflik rumahtangga kita dg pasangan tidak menyebabkan emosi ke anak. Karena memang terkadang emosi ke pasangan dilampiaskan ke anak. Bagaimana meredam emosi pada situasi tsb?
Jawaban
Ketika kita tidak bisa banyak berharap akan perubahan pasangan kita, terlebih karena bertambahnya usia membuat watak seseorang semakin sulit untuk berubah, maka prioritaskanlah masa depan anak.
Dalam kondisi tertentu, seseorang suami bisa menjadi mantan suami. Seorang istri bisa menjadi mantan istri. Namun sampai kapanpun tidak ada mantan anak. Masa depan mereka menentukan masa depan dunia akhirat kita. Mereka dapat menjadi simpanan terbaik kita, bisa pula menjadi beban kita.
Maka pentingnya masa depan anak inilah yang akan memotivasi kita untuk menciptakan pola asuh terbaik. Maka kita perlu berupaya sekuat tenaga agar permasalahan yang kita hadapi tidak terlalu berimbas pada performa kita dalam mengasuh anak. Meski tidak mudah, namun azam yang kuat untuk melahirkan generasi yang lebih baik, insya Allah akan membuat kita berusaha optimal.
Sebaiknya saat permasalahan memuncak, kita perlu menjaga jarak dengan anak untuk sementara waktu. Seperti menenangkan diri ke kamar untuk shalat atau tilawah. Agar anak tidak mendapat luapan amarah kita.
Semoga Allah SWT memperbaiki keadaan ibu dan keluarga. Jika keadaan ideal bersama pasangan sulit kita ciptakan, jangan habiskan banyak energi disini. Fokuslah memutus rantai keburukan agar tercipta generasi yang lebih baik. Ikhtiarkan agar anak perempuan kita menjadi istri dan ibu yang lebih baik dari kita dan anak laki-laki kita menjadi suami dan ayah yang lebih baik dari ayahnya
Adapun cara untuk meredam emosi kita, telah digariskan oleh agama Islam yang mulia dan sempurna
Bagaimana tuntunan Islam dalam mengendalikan emosi Marah. Berikut beberapa hadist yang berkaitan dengan cara kita mengendalikan marah:
1. Membaca taawudz
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim) . Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad)
2. Mengubah posisi tubuh
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
3. Mengingat keutamaan mengendalikan amarah
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
4. Berwudhu
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
5. Bersujud
Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)."
4⃣ Fitri - Pangkalan Kerinci
🍒1. Teh, pernah ga kesulitan membagi waktu dengan anak2? Misalkan disaat lagi fokus dengan anak yg lebih kecil, anak yg lebih besar menunjukkan egonya dan tidak mau diberi pengertian. Kendala yang sering saya hadapi seperti itu, disaat si bayi lg butuh waktu tenang untuk tidur sambil disusui nah si Abang selalu nyari perhatian dan tidak bisa diberi pengertian. Alhasil si adek rewel dan si Abang tak juga bisa dikondisikan.
🍒2. Bagaimana cara menghadapi balita yang ego nya sangat besar dan susah diberi tahu. Bila menangis selalu teriak2 dan apa yg kita katakan tidak didengar sedikit pun, jika kita diam selalu menyuruh kita untuk berbicara tp juga ttp tidak di dengar.
Jawaban
Tentu Hal ini sering terjadi, namun kesulitan dan kehebohan seperti ini yang insya Allah kelak akan kita rindukkan. Percayalah banyak ibu yang mengalami kehebohan ini, sehingga kita tidak akan terlalu bersedih bila kondisi rumah kita tidal ideal.
Namun kehebohan ini bisa dimininalisir. Seperti saya misalnya, biasanya menggunakan waktu menyusui untuk membacakan buku untuk kakak, berdiskusi atau mentalaqi Al Quran. Usahakan kakak tetap mendapat perhatian saat adik menyusui. Bila tidak biasanya kakak justru mencari perhatian negatif saat adik menyusui. Hal ini juga bisa menjadi benih-benih munculnya kecemburuan antara kakak dan adik.
Optimalisasi kerjasama dengan ayah. Seperti membuat kegiatan bersama ayah di waktu-waktu kritis dimana kita harus fokus dengan bayi.
Mungkin ibu galau karena ibu belum tau kalo rata rata anak 2 tahun memang masuk fasa ini. Fasa dimana ia sudah banyak keinginan tetapi belum mampu sehingga rentan sekali untuk tantrum.
Oh ya cek juga akar masalahnya ya barangkali ananda jadi rentan tantrum akibat rasa cemburu setelah kelahiran adik dimana perhatian ibu terbagi dan ia merasa lebih mudah mencuri perhatian ibu dengan tantrum.
Tangisan adalah ekspresi ketidaknyamanan. Tangisan bisa jadi merupakan ekspresi kesedihan, kekecewaan, bahkan frustasi ketika tidak bisa mengungkapkan keinginan. Anak yang terus dilatih kemampuan verbalnya akan lebih spesifik dan jelas dalam mengungkapakan ketidaknyamanan yang ia rasakan. Maka wajar bila 1 tahun pertama kita harus segera membantu bayi yang menangis untuk menghilangkan rasa tidak nyaman karena hanya dengan cara menangis ia dapat mengungkapakan perasaan tidak nyaman. Tentunya di usia ini anak belum bisa memanipulasi keadaan dengan cara menangis. Sementara di usia selanjutnya ada kemungkinan menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mencuri perhatian bahkan mendapatkan hal yang ia inginkan.
Oleh karena itu ada beberapa upaya yang perlu kita lakukan dalam menghadapi anak yang frustasi dengan menangis dan melatih anak untuk lebih bijak dalam mengelola emosi mereka.
Penyebab frustasi:
1. Anak memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu sendiri namun terkadang kemampuan yang dimilikinya terbatas
2. Anak tidak dapat mengungkapkan keinginannya secara verbal sementara orang dewasa di sekitarnya tidak dapat memahami keinginananya
3. Anak pada usia ini mudah kesal; rentan terhadap perubahan suasana hati dan ledakan amarah
Contoh sikap dalam merespon frustasi anak berusia batita:
1. Luangkan waktu untuk mencari tahu makna isyarat keinginannya, bersabarlah sampai kita dapat memahaminya
2. Berikan "yes or no question" untuk membantu kita menemukan keinginannya
3. Setelah kita memahami keinginannnya, bantu melabeli nama perbuatan atau benda yang ingin ia lakukan, agar perbendaharaan kata mereka semakin kaya
4. Jika keinginan mereka tidak mungkin dipenuhi, maka alihkan segera. Dalam usia ini pengalihan masih lebih mudah untuk kita lakukan
5. Luangkan waku untuk dapat segera membantu mereka sebelum mereka bertambah frustasi
6. kenali hal-hal yang biasanya akan memunculkan sikap frustasi sehingga anak-anak tidak harus berada dalam fasa frustasi yang kadang membawa kia dalam kondisi yang sulit
7. Penuhi kebutuhan dasar nutrisi dan istirahat. Kondisi lapar dan mengantuk sangat retan membuat anak rewel. Jangan juga terlalu panik jika anak rewel. Menagis adalah hal yang wajar terjadi dalam usia ini. Namun bantulah ia menenangkan dirinya dengan pengalihan
8 Latih terus anak untuk mengenal nama benda di sekitar mereka serta aktifitas yang rutin dilakukan agar anak terlatih untuk mengungkapkan keinginan secara verbal
9. Jaga rutinitas untuk meminimalisir perubahan suasana yang mungkin dapa menimbulkan frustasi mereka
10. Jangan terlalu banyak melakukan perubahan di luar rencana atau rencanakan dengan matang jika akan ada perubahan suasana
11. Apresiasi saat anak mencari perhatian dengan cara positif, saat anak rewel, menangis mungkin ia sedang sangat ingin bermain bersama anda
Jika anak yang frustasi sudah mencapai usia 2-4 tahun, sudah dapat memahami komunikasi dengan lebih baik, maka:
1. Latih anak untuk mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik, jangan layani keinginannya sebelum ia menenangkan diri dan berlatih meminta dengan cara yang baik
2.Beri pengertian dengan komunikasi yang singkat pada dan jelas jika keinginannya sedang tidak mungkin dipenuhi, lalu tawarkan solusi lain
3. Sigap terhadap sikap-sikap nonverbal yang muncul karena keterbatasanya mengungkap keinginan secara verbal, lalu latih ia mengungkapkan keinginannya secara verbal
4. bantu ia mengenal perasaannya, lalu akui perasaannya saat ia sedih, kecewa atau marah, lalu latih ia untuk bersikap bijak dalam mengelola perasaannya
5. kondisikan lingkungan agar tidak terlalu banyak perubahan besar dengan membuat rutinitas yang teratur atau persiapkan dengan matang saat akan mengalami perubahan rutinitas
6. tangkap sebanyak-banyaknya perilaku baik dan menyenangkan lalu apresiasilah dengan ungkapan kasih sayang, agar kedepannya ia tumbuh menjadi anak yang lebih memilih mencari perhatian positif daripada negatif
Jika anak yang frustasi atau menunjukkan emosi ekstrim sudah mencapai usia 4-6 tahun, maka:
1. Latihlah anak memeiliki emosi yang wajar dengan melibatkan kisah-kisah teladan baik dari Kisah nabi, Sirah, maupun hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya tidak hanya mengenalkan apa yang tidak wajar namun sekaligus memotivasi mereka untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan serta meneladani kebaikan.
2. Kita bisa menunda memberi pengertian dalam suasana yang lebih santai dan serius agar hikmah yang diperoleh bisa lebih dalam, hindari menasihati dalam keadaan emosi memuncak serta pada saat anak-anak masih dalam suasana perasaan yang enggan untuk diberi nasihat
3. Beri anak ruang dan waktu sebagai kesempatan untuk menenangkan diri pada saat emosi yang ekstrim sedang berlangsung
4. Bangun komunikasi tentang aturan, manfaat dari aturan, serta konsekuensi logis dan natural dari pelanggaan aturan, sehingga pada saat anak-anak menunjukkan emosi yang ekstrim yang disebabkan karena penlakan terhadap aturan, maka kita hanya tinggal mengingatkan kembali aturan yang kita miliki.
6⃣ Atiq
Adakah tips dari teh Kiki dalam mengatur porsi kesibukan dalam pekerjaan yg sesuai dengan tingkat usia anak2 yg dimiliki? mengingat, semua anak2 Teh Kiki homeschooling, dan berbeda usianya, gimana cara membagi perhatiannya serta tetap sabar teh?
Jawaban
Pertama saya ralat dulu ya, anak saya tidak homeschooling semua lagi. Anak pertama kembali pesantren karena beliau ingin kuliah Syariah. Kemudian ada yang bersekolah di sekolah inklusi setelah kelahiran adik keenam. Keputusan ini saya ambil karena waktu saya 24 jam tidak berubah sementara amanah bertambah. Perubahan penyesuaian seperti ini harus ada, menimbang dinamika dalam hidup kita. Termasuk pilihan pekerjaan yang kita jalani. Kita perlu memilih apa yang paling memungkinkan untuk kita jalani hari ini.
Sebagai contoh sejalan dengan pertambahan anak, saya dan suami pun harus memilih. Suami memilih resign dari pekerjaan, tidak LDR lagi dan bekerja di rumah. Kami memilih menjalankan bisnis yang hanya menyita waktu di depan internet namun tidak membutuhkan banyak mobilisasi. Sehingga kami bisa lebih mudah memantau perkembangan anak. Kami mengkonversi bisnis dari bisnis yang bersifat mengejar volume ke bisnis yang bersifat mengejar margin. Salah satunya karena pertimbangan jumlah dan usia anak. Kami harus mencari pekerjaan yang relatif lebih mudah dikerjakan sambil menjalankan amanah orang tua dengan jumlah anak yang banyak dan usia yang masih kecil.
Jadi langkah pertama dalam mengatur porsi kesibukan yang menyesuaikan keadaan anak itu adalah pada pilihan peran kita. Kalo dari peran yang kita pilih sudah menyita waktu, otomatis akan sulit membagi perhatian dengan anak.
Adapun tentang tips membagi waktu antara pekerjaan dan membersamai anak adalah sbb:
Tips membagi jadwal pekerjaan rumah tangga dengan waktu kebersamaan anak
1.*Lakukan hal-hal penting genting terlebih dahulu di pagi hari*
(misal: masak, menyiapakan bekal, mencuci). Tunda hal penting namun tidak genting setelah kebutuhan anak terpenuhi ( misal beres-beres, cuci piring). Optimalkan waktu siang dengan anak-anak dan sisakan pekerjaan finishing setelah keperluan anak yang mendasar selesai.
2.*Install dalam pikiran bahwa membersamai tumbuh kembang anak adalah pekerjaan utama ibu* kemudian rumah tangga dilakukan disela sela itu. Bukan sebaliknya pekerjaan rumah tangga yang utama dan mengasuh anak di sela-sela itu. Mengapa? Karena sampai kita meninggal pekerjaan rumah tangga tidak akan habis. Tetapi momentum emas dalam setiap tahapan usia tidak bisa kembali.
3.*Ciptakan supporting system*
yang bisa menemani kegiatan anak saat kita harus mengerjakan pekerjaan yang betul-betul sulit dilakukan bersamaan dengan memperhatikan anak, misal dipegang ayah sepenuhnya. Atau lakukan pekerjaan dengan model seperti ini saat anak-anak benar-benar tidak membutuhkan kehadiran kita seperti saat tidur.
4.*Libatkan anak dalam pekerjaan sehari-hari*
seperti cooking class agar ibu tetap memenuhi kewajiban dalam rumah tangga dan anak tetap merasakan kebersamaan ibu
5.*Jadikan waktu khusus untuk kerja bakti bersama*
yang melibatkan seluruh keluarga
Saya biasa melakukan kesibukan bisnis saya pada beberapa waktu dimana anak tidak terlalu membutuhkan saya. Seperti sebelum anak bangun, setelah anak tidur, saat anak sedang mengambil jam bermain, saat anak mengambil jatah multimedia. Dalam keadaan terpaksa saya dan suami bekerja di pinggir playground, arena bermain indoor sementara anak tetap mendapat hak untuk bermain. Saat aktifitas outdoor anak membutuhkan kehadiran kami, salah satu dari kami bekerja dipinggir area aktifitas anak seperti kolam renang misalnya.
Tanggapan dr ummu akhfa
Teh... Terkait poin nmr 7 dr bahasan tema materi..
Ini terasa sekali sya masih minin ilmu mengenai tahapan perkembangan anak teh....
Kira2 buku apa yg bisa dipelajari untuk menambah wawasan menenai tahap perkembangan anak?
Jawaban
Buku referensi saya adanya Dr luar kalo untuk perkembangan anak. Kurang hafal kalo yg indonesia tapi kalo googling dengan keywords milestone atau tahap perkembangan anak banyak mbak. Kalo referensi buku Indo saya tarbiyatul aulad dan prophetic parenting tapi biasanya untuk milestone mendetail banyaknya dari buku teori psikologi barat.
Tanggapan dari mbak wulan
Saat ini saya sedang mengalami tantangan yang sama seperti mba rika (1) dan mba fitri teh. Saya baru punya bayi dan LDM dg suami.
Sering sekali ketika menyusui adik secara bersamaan si abang minta dipeluk respon saya terkadang menghentikan adiknya menyusu-memeluk abg-melanjutkan menyusui adik, atau terkadang meminta abg menunggu, saya tetap menyusui adik, pada saat itu ada kalanya si abang mengerti dan adakalanya menunggu membuat si abg tantrum.
Srbenarnya ketika keduanya besamaan menangis dan membutuhkan perhatian saya, sementara tidak ada org lain yg bs membantu manakah yang harus saya dahulukan teh? Si abang atau si adek? Saya sering kewalahan menghadapi hal ini.
Jawaban
Yang prioritas adalah jaga kewarasan kita. Caranya adalah dengan mengisntall pikiran kita bahwa Hal ini adalah wajar, Hal ini bagian dari dinamika kehidupan rumah tangga, Hal ini yang nanti akan kita rindukan.
Kedua dahulukan yang genting. Bukan lihat dari usia, tapi mulailah mengerjakan dari sesuatu yang imbasnya akan memperkecil mudhorot. Atau apabila ditunda lebih banyak mudhorotnya. Seperti ditinjau dari segi keamanan.
Apabila adik bayi aman, dan bisa ditunda, terkadang pemenuhan kebutuhan kakak sebaiknya di prioritaskan. Karena adik bayi belum ada perasaan cemburu, merasa diabaikan dll. Selama bayi aman dan bisa dialihkan, ia dapat menunggu tanpa perasaan terluka. Namun kakak yang selalu dipaksa mengalah pada adik biasanya bisa menimbulkan beragam permasalahan.
Tanggapan dr mbak yoshe
Alhamdulillah pagi2 siap belajar 😊.
Saya menanggapi tentang pertanyaan CARA MENANAMKAN RASA SUKA IBADAH.. barangkali sama seperti menanamkan rasa tanggung jawab pada hal apapun ke anak2 ya teh. Misalnya pada tugas harian. Walaupun sudah jadi rutinitas harian, tapi tetap saja saya harus mengingatkan, menunjukkan kalau anak2 belum punya rasa tanggung jawab. Dan setelah saya ingatkan, mereka akan laksanakan tapi dengan ogah-ogahan. Selain dengan pemberian reward setiap hari, adakah cara yang juga efektif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab ini?
Jawaban
Melatih kemandirian kepada anak tentu harus dilakukan secara bertahap. Secara fitrah sebelum berusia tamyiz atau sekitar 7 tahun, anak- anak itu masih belum dapat bertanggungjawab. Meskipun melatih anak untuk mandiri dan bertanggung jawab tetap dapat kita lakukan sebelum usia tamyiz. Yang tidak bijak adalah Ketika kita menuntut mereka berperilaku dengan penuh tanggung jawab seperti orang dewasa. Terlebih bila kita sendiri tidak meluangkan waktu untuk mengajarkan dan melatih mereka dengan penuh kesabaran. Namun langsung berharap anak mampu melakukan sesuatu. Apalagi jika berujung pada luapan emosi negatif.
Melatih kemandirian kepada anak tentu harus dilakukan secara bertahap
Dibawah usia 7 tahun, anak belum benar-benar mampu bertanggung jawab. Namun di atas usia 7 tahun, anak sudah masuk pada masa pelatihan/tadrib. Mereka perlu belajar lebih dewasa dengan sedikit demi sedikit diberi tanggung jawab. Mulai dari hal-hal kecil secara bertahap. Karena ketika mereka mampu melakukan tugas-tugas kecil maka akan tumbuh rasa percaya diri sehingga mereka akan berani mencoba melakukan tugas-tugas yang lebih komplex dari apa yang sudah mereka lakukan.
Meski pada usia dibawah 7 tahun anak belum mampu bertanggung jawab, namun melatih tanggung jawab dalam skala kecil tetap perlu kita lakukan. Meskipun kita tidak menuntut mereka dalam melaksanakannya apalagi memberlakukan hukuman.
Sebagai contoh anak-anak berusia 2 tahun sudah dapat kita ajak untuk membereskan mainan atau membuang sampah. Tentunya mengajak anak berusia batita memerlukan cara pendekatan yang berbeda. Terkadang anak batita kita sulit melaksanakan perintah ketika kita hanya berkata "Ayo masukan mainannya ke box!" Namun ia mungkin lebih sukarela melakukannya jika menjadikan tugas membereskan mainan sebagai bagian dari permainan itu sendiri. Seperti mengatar mainan ke rumahnya agar tidak tersesat pulang atau memainkan peran sebagai alat berat yang mengangkut semua barang-barang. Ini salah satu contoh melatih anak melakukan tugas-tugas sederhana supaya mereka memiliki rasa percaya diri untuk mendapatkan tugas yang lebih komplex dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu untuk menumbuhkan kemandirian dan kedisiplinan seorang anak, harus diawali dari kepercayaan orang tua bahwa anak sebenarnya mampu melakukannya, meski pada saat awal belum terlalu baik hasilnya. Terkadang karena hasil yang terlihat belum baik, orang tua menganggap anak belum bisa melakukannya. Oang tua tidak mau bersabar dengan proses bahkan memilih cara instant dengan mengambil alih pekerjaan itu.
Segalasesuatu membutuhkan proses. Sebagaimana dalam islam pemberian tanggung jawab sholat pun berproses. Kita diberi waktu selama 3 tahun dengan memberi 5475 kali perintah shalat sebelum meminta komitmen mereka melaksanakannya. Kita perlu mengulang-ulang tanpa meyerah sambil terus memberikan dorongan dan motivasi selama proses latihan tersebut.
Dalam memotivasi anak agar mandiri melakukan sesuatu kita dapat menggunakan berbagai metode. Belajar dari kisah Rasulullah SAW, dahulu pernah ada seorang anak yang menguliti kambing disamping Rasulullah SAW. Namun anak ini belum mahir melakukannya. Rasulullah mengajari dengan cara mempraktekannya langsung tanpa banyak mengomentari apalagi menegur hasil kerja sang anak. Ini adalah salah satu metode dalam mengarahkan perilaku anak, yaitu dengan memberikan contoh teladan secara langsung. Fokus mengajarkan anak, bukan mengomentari kekurangannya.
Terkadang anak tidak bersegera melaksanakan harapan kita, jika cara mengarahkan perilaku mereka sekedar disuruh begitu saja. Barangkali ananda membutuhkan motivasi dari orang-orang disekitarnya. Ia membutuhkan insiprasi dari kesuksesan orang-orang disekitarnya, sehingga ia dapat tergerak melakukan sesuatu karena munculnya kesadaran diri.
Terkadang ada juga anak-anak yang perlu diberi motivasi eksternal dengan memberikan hadiah ketika dia berhasil melakukan sesuatu. Hal ini wajar bahkan balajar dari shirah, Rasulullah membangun jiwa kompetesi anak-anak dengan memberikan hadiah. Namun perlu kebijaksanaan dalam melaksanakannya sehingga ia tetap belajar berproses untuk melakukan sesuatu karena Allah semata, meskipun tidak ada imbalan kongkrit di dunia.
Dalam memotivsi anak-anak terkadang kita perlu mencari waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Belajar dari sirah, Rasullullah SAW memberikan nasihat pada anak saat makan, saat dalam perjalanan, dan saat sakit.
Tentunya dalam meluruskan perilaku ana, kita perlu menghargai proses. Namun pada saat anak menginjak usia 7 tahun, sudah saatnya kita lebih serius dalam menanamkan sikap disiplin dan mandiri meski hanya dalam skala kecil. Seharusnya kedekatan kita dengan anak-anak justru kita manfaatkan untuk mempermudah proses ini. Ikatan yang kuat diantara kita diharapkan mampu membuat ananda berusaha untuk membahagiakan kita dengan melaksanakan perintah dan harapan-harapan kita.
Mari kita doakan terus agar Allah melembutkan hati anak-anak kita untuk bisa melaksanakan apa yang kita harapkan, insya Allah.
7⃣ Bunda solehah 1
🍒1. Bagaimana cara orang tua agar bisa senantiasa ikhlas dan sabar dalam menghadapi mood anak, baik dalam beribadah maupun belajar? Karena ada tipe anak untuk melakukan sesuatu negosiasi dulu.
🍒2. Teh..., ini terkait dengan saya yang sedang dilema. Ingin sambung kuliah spesialisasi atau tetap bersama dengan anak dan pasangan di rumah. Pasangan menginginkan saya sebagai partner dia dalam mendidik anak2, sedangkan saya semangat untuk menimba ilmu juga kuat. Ketika pendidikan spesialisasi, pada umumnya keluarga jd prioritas ke dua, sedangkan saya tak mau dalam kondisi seperti itu. Apa yang mesti saya pilih teh kiki, agar saya bisa fokus,ikhlas dan sabar belajar bersama dengan anak2?
Jawaban
Pertama, ubah cara pandang kita terhadap anak yang gemar bernegosiasi. Anak-anak ini adalah calon pemimpin masa depan. Ia selalu ingin melibatkan pandangan mereka untuk mempengaruhi pandangan orang tua. Anak-anak tipe seperti ini biasanya tipe anak berkemauan kuat.
Dengan mengubah cara pandang kita akan melihat bahwa ini adalah potensi positif dalam diri anak yang perlu diasah agar digunakan dalam han kebaikan. Sehingga kita tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang terlalu negatif dan kemudian memicu emosi negatif kita.
Sebenarnya orang tua perlu bersyukur memiliki anak yang berkemauan keras. Meski terkadang memiliki tantangan tersediri dalam pengasuhan saat usia kecil. Anak-anak berkemauan keras adalah calon pemimpin masa depan. Mereka adalah orang-orang yang gigih mengejar cita-cita dan tidak mudah putus asa karena pandangan orang lain.
Sehingga fokus kita bukan mengubah karakter anak, tetapi bagaimana mengatur dan mengubah sikap kita untuk menyesuaikan diri dengan strong willed-spirited child agar potensi ini menjadi potensi kebaikan bagi ummat. Meskipun begitu secara umum semua anak akan melewati fasa egosentris. Di masa tersebut, mereka belum mampu memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang. Hanya dapat melihat masalah dari satu sisi. Namun anak anak strong willed-spirited child biasanya memiliki kadar ego dan kegigihan yang lebih besar.
Adapun cara kita menghadapi anak-anak yang berkemauan keras dapat dibaca dalam tulisan berikut yang diterjemahkan dan diadaptasi oleh suami saya. Aditya irawan
*Mengasuh anak berkemauan kuat*
Apakah anda memiliki anak berkemauan kuat? Anda sungguh beruntung! Anak berkemauan kuat akan sangat menantang saat mereka masih kecil, akan tetapi akan menjadi pemudi/pemuda yang hebat bila diasuh dengan baik. Memiliki motivasi yang kuat dan berpendirian teguh, mereka akan berusaha mengejar keinginan mereka dan hampir tak terpengaruh oleh tekanan lingkungannya. Sepanjang orang tua mereka tidak berusaha untuk "mematahkan kemauan mereka", anak berkemauan keras adalah calon pemimpin masa depan.
Apakah anak berkemauan kuat itu? Sebagian orang tua menyebut mereka "sulit" atau "keras kepala", tetapi kita juga bisa melihat mereka sebagai orang dengan integritas tinggi yang pandangannya tidak mudah digoyahkan. Mereka bersemangat dan pemberani. Mereka ingin mempelajari sesuatu sendiri daripada menerima perkataan orang lain, sehingga mereka akan menguji batas berulang kali. Mereka sangat ingin bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, sehingga terkadang menempatkan keinginan untuk menjadi benar diatas segalanya. Saat hati mereka terkunci pada sesuatu, otak mereka akan sulit untuk berpindah ke tempat lain. Anak berkemauan kuat penuh gairah dan menjalani hidup dengan kecepatan penuh.
Seringkali anak berkemauan kuat rentan terhadap perebutan kekuasaan dengan orang tua mereka. Akan tetapi, perebutan kekuasaan memerlukan adanya dua pihak. Anda tidak perlu melayani semua undangan untuk berdebat! Bila anda dapat menarik napas setiap kali emosi anda terpicu dan mengingatkan diri anda sendiri bahwa anda dapat menjaga harga diri anak anda dengan tetap mencapai apa yang anda inginkan, anda akan belajar cara untuk menghindari perebutan kekuasaan tersebut. (Jangan biarkan balita anda membuat anda bertingkah seperti balita juga!)
Tidak ada seorangpun yang suka didikte, akan tetapi anak berkemauan kuat sangat membencinya. Orang tua dapat menghindari perebutan kekuasaan dengan membantu anak merasa dimengerti meskipun anda memberikan batasan kepada mereka. Cobalah untuk berempati, berikan pilihan, dan mengertilah bahwa rasa hormat berlaku dua arah. Mencari solusi yang saling menguntungkan daripada sekedar menegakkan peraturan akan mencegah emosi anak berkemauan kuat meledak dan mengajari mereka keahlian bernegosiasi dan berkompromi.
Anak berkemauan kuat tidak sekadar ingin mempersulit. Mereka merasa integritas diri mereka ternoda bila mereka harus menyerah pada kemauan orang lain. Bila mereka diberi pilihan, mereka akan bekerjasama dengan senang hati. Bila anda merasa terganggu dengan ini karena berpikir kepatuhan adalah sesuatu yang penting, cobalah pertimbangkan kembali. Tentu saja anda ingin membesarkan seorang anak yang bertanggungjawab, penuh perhatian, mudah bekerjasama yang akan melakukan hal yang benar walaupun hal tersebut sulit. Tapi hal tersebut bukan berarti kepatuhan. Hal tersebut berarti melakukan hal yang anda inginkan.
Quote:
Moralitas adalah melakukan hal yang benar, tanpa peduli apa yang dikatakan pada anda. Kepatuhan adalah melakukan apa yang dikatakan pada anda, tak peduli benar atau salah.
- H.L. Mencken
Jadi tentu saja anda ingin anak anda melakukan apa yang anda minta. Tapi itu bukan berarti karena ia patuh, dalam artian ia akan selalu melakukan semua yang dikatakan oleh orang yang lebih besar darinya. Yang anda inginkan adalah ia melakukan permintaan anda karena ia mempercayai anda, karena ia mengerti bahwa walaupun anda tidak selalu menuruti semua keinginannya, tetapi anda peduli padanya. Anda ingin membesarkan seorang anak yagn memiliki disiplin diri, berani bertanggung jawab, dan penuh perhatian -- dan yang paling penting, memilki kemampuan untuk memutuskan siapa yang dapat ia percaya dan kapan ia dapat membiarkan dirinya dipengaruhi oleh orang lain.
Mematahkan kemauan seorang anak akan membuatnya terbuka pada pengaruh orang lain yang sering kali tidak memiliki tujuan yang sama dengannya. Dan lagi, hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan pada tugas kita sebagai orang tua.
Walaupun begitu, anak dengan kemauan kuat dapat menjadi sesuatu yang sulit untuk diasuh -- berenergi tinggi, menantang, gigih. Bagaimana kita dapat melindungi hal-hal tersebut dan mendorong mereka untuk bekerjasama?
11 tips untuk pengasuhan anak berkemauan kuat dan penuh semangat
1. Ingatlah bahwa anak berkemauan kuat belajar dari pengalaman mereka
Hal tersebut berarti mereka harus melihat sendiri bahwa kompor itu panas. Sehingga bila anda tidak khawatir mengenai cedera serius, lebih efektif untuk mengajari mereka melalui pengalaman dibanding mencoba untuk mengendalikan mereka. Dan dapat diduga kalau anak berkemauan kuat anda akan menguji limit anda berkali-kali -- begitulah cara mereka belajar. Bila anda mengetahui hal itu, akan lebih mudah untuk bersikap tenang, yang akan mencegah memburuknya hubungan anda--dan juga kesabaran anda.
2. Anak berkemauan kuat sangat ingin penguasaan, terutama atas diri mereka sendiri.
Biarkan mereka bertanggung jawab atas aktifitas mereka sendir, sebanyak mungkin. Jangan mengomeli mereka untuk menggosok gigi; akan tetapi bertanyalah: "Apa lagi yang perlu dilakukan sebelum kita pergi?" Bila ia terlihat bingung, ingatkan kembali pada daftar aktifitas: "Setiap pagi kita sarapan, menggosok gigi, buang air, dan menyiapkan tas. Bunda lihat kamu sudah menyiapkan tasmu, hebat! Sekarang apalagi yang masih perlu dilakukan?" Anak yang lebih merasa mandiri dan memimpin dirinya sendiri akan berkurang keinginan untuk melawannya. Belum lagi, mereka belajar bertanggung sejak dini.
3. Beri anak anda pilihan
Bila anda memberi perintah, hampir pasti ia akan siap melawan. Bila anda menawarkan pilihan, ia akan merasa menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Tentu saja, hanya berikan pilihan yang dapat anda sanggupi dan jangan merasa sakit hati karena telah menyerahkan kekuasaan padanya.
4. Berikan ia otoritas atas tubuhnya sendiri
Biarkanlah anak anda merasa dirinya berkuasa atas tubuhnya sendiri. Bila anda merasa udara diluar sedang dingin dan anda memintanya untuk mengenakan baju hangat, jangan kaget bila ia akan menolak. Sangat sulit baginya untuk membayangkan dirinya akan merasa kedinginan padahal saat ini ia sedang merasakan kehangatan di dalam rumah, dan mengenakan baju hangat hanya akan merepotkannya. Dia yakin dirinya benar -- tubuhnya mengatakan hal itu padanya -- jadi secara alamiah ia akan menolak anda. anda tidak ingin merendahkan percaya dirinya, tapi ajarkanlah bahwa merubah keputusan berdasarkan informasi baru tidak semestinya membuatmu malu.
5. Hindari perebutan kekuasaan dengan menggunakan peraturan dan rutinitas
Dengan begitu, anda bukanlah orang jahat yang menyuruh-nyuruh mereka, hanya saja
"Jam 8 malam adalah jadwal kita memadamkan lampu. Bila kamu bersegera, kita masih punya waktu untuk membaca dua buku" atau "Dalam rumah kita, kita harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menonton."
6. Jangan desak ia untuk melawan anda
Paksaan selalu menghasilkan "perlawanan" -- pada manusia di segala umur. Bila anda mengambil posisi yang tidak dapat ditawar lagi, anda akan dengan mudah mendesak ia untuk menentang anda, hanya untuk membuktikan kalau ia bisa. Anda akan tahu bila hal tersebut adalah awal mula perebutan kekuasaan dan anda akan melakukan apa saja untuk menang. Berhentilah, tarik napas, dan ingatkan diri anda bahwa memenangi pertempuran dengan anak anda akan selalu membuat anda kehilangan sesuatu yang paling penting: hubungan baik. Bila ragu, katakanlah:
"Baik, kamu bisa memutuskan ini sendiri."
Bila ia tidak bisa, sebutkanlah bagian apa yang bisa ia putuskan, atau carilah cara lain untuknya agar ia bisa memenuhi kebutuhan otonominya tanpa membahayakan kesehatan atau keselamatannya.
7. Hindari perebutan kekuasaan dengan membiarkan anak anda menjaga harga dirinya
Anda tidak perlu membuktikan kalau anda benar. Anda bisa, dan harus, menetapkan harapan yang wajar dan melaksanakannya. akan tetapi janganlah pernah mematahkan kemauan anak anda atau memaksanya untuk menyetujui pandangan anda. Ia harus melakukan apa yang anda inginkan, tetapi biarkan ia memiliki pendapatnya sendiri dan perasaan tentang hal itu.
8. Dengarkan ia
Anda sebagai orang dewasa mungkin layak untuk menganggap diri anda mengetahui yang terbaik. Akan tetapi anak berkemauan kuat memiliki pendirian yang teguh karena integritasnya. Ia memiliki sudut pandang yang membuatnya berpegang teguh pada pendiriannya dan ia akan berusaha melindungi apa yang ia rasa penting. Bila anda bisa mendengarkan dengan tenang dan mempertimbangkan kata-katanya, anda akan mengerti apa yang membuatnya menentang anda. Anda tidak akan mengetahui hal tersebut bila anda berselisih dan memaksanya.
9. Lihatlah dari sudut pandangnya
Misalnya ia marah karena anda berjanji untuk mencuci pakaian kesukaannya dan kemudian lupa. Bagi anda, ia keras kepala. Baginya, wajar bila ia merasa kecewa, dan anda terasa bersifat munafik, karena ia tidak diperbolehkan untuk melanggar janjinya pada anda, tetapi anda melanggar janji anda padanya. Bagaimana anda dapat menyelesaikan masalah ini? Mintalah maaf padanya dengan bersungguh-sungguh, yakinkan ia bahwa anda berusaha keras untuk memenuhi janji-janji anda, dan cucilah pakaian itu berdua. Anda bahkan dapat mengajarinya mencuci pakaiannya sendiri sehingga anda tidak perlu berada dalam posisi ini di kemudian hari dan ia akan merasa diberi wewenang. Bayangkanlah bagaimana anda ingin diperlakukan, dan perlakukanlah ia sesuai dengan itu.
10. Disiplin melalui hubungan baik, bukan hukuman
Anak-anak tidak mempelajari apapun saat mereka di tengah pertengkaran. Seperti juga kita, pada saat itulah adrenalin bekerja dan pembelajaran terhenti. Jadi tidak perlu dipaksakan untuk memberikan pelajaran pada saat tersebut, tarik napaslah dan cobalah untuk mengerti. Anak-anak akan bekerjasama karena ada sesuatu yang lebih mereka inginkan daripada berbuat sesuka hati mereka -- mereka menginginkan hubungan yang hangat dengan kita. Semakin sering anda bertengkar dan menghukum mereka, semakin kecil keinginan mereka untuk melindungi hubungan baik tersebut. Bila sesuatu mengganggu perasaan mereka, bantulah ia untuk mengekspresikan perasaan sakit, takut, atau kecewa tersebut, agar perasaan tersebut hilang. Setelah itu ia akan siap untuk mendengarkan anda saat anda mengingatkannya bahwa di dalam rumah anda, semua orang berbicara dengan cara yang baik. (Tentu saja anda harus mencontohkan hal tersebut. Anak anda tidak selalu mengerjakan apa yang anda minta, tetapi mereka akan selalu, pada akhirnya, melakukan apa yang anda lakukan.)
11. Berikan ia penghargaan dan empati
Kebanyakan anak berkemauan kuat berjuang demi mendapatkan penghargaan. Bila anda memberikan hal tersebut pada mereka, mereka tidak akan perlu berjuang untuk melindungi posisi mereka. Dan, seperti juga pada kita semua, akan sangat membantu bila mereka merasa dimengerti. Bila anda mengerti sudut pandang mereka dan merasa ia salah -- misalnya, ia ingin menggunakan pakaian yang kurang pantas ke acara pernikahan -- anda masih bisa berempati pada perasaannya dan berkompromi dengannya dalam batasan yang anda tentukan.
"Kamu sangat suka baju ini dan sangat ingin menggunakannya bukan? Akan tetapi dalam acara pernikahan, kita berpakaian dengan rapi untuk menghargai yang mengundang dan tamu lainnya. Bunda tahu kamu sangat kehilangan bila tidak mengenakan baju ini. Bagaimana kalau kita bawa baju ini agar kamu bisa mengenakannya di perjalanan pulang.
Apakah hal-hal diatas terkesan memanjakan? Tidak. Anda menetapkan batasan-batasannya. Tetapi anda menetapkannya dengan mempertimbangkan sudut pandang anak anda, yang akan membuatnya lebih mudah untuk bekerjasama. Tidak ada alasan untuk melakukannya dengan kasar!
Hal ini juga buka cara pengasuhan dengan otoriter, karena hal tersebut hanya akan menjadikan mereka memberontak.
Sumber: http://www.ahaparenting.com/parenting-tools/positive-discipline/Parenting-Strong-Willed-Child
Terjemahan dan adaptasi oleh: Aditya Irawan
Untuk kasus kedua, niat meraih cita-cita itu tetap kita azamkan. Hanya masalah pilihan waktunya saja. Tidak semua cita-cita harus kita raih saat ini juga. Kita lihat perkembangan anak, waktu dimana mereka tidak terlalu membutuhkan banyak perhatian secara fisik, disitulah kita bisa kembali meneruskan perjuangan meraih mimpi dan cita-cita kita.
Menjadi ibu bukan berarti memupuskan mimpi. Menjadi ibu berarti membawa keluarga bersama mimpi kita dengan menyesuaikan mimpi kita menjadi mimpi bersama. Oleh karena itu ada kalanya speed dalam meraih mimpi harus kita kecilkan. Ada masanya kita bisa menancap gas kembali. Bila saat ini belum memungkinkan, bersabar saja. Tetaplah beraktifitas agar jalur meraih mimpi itu tidak terputus. Walau saat ini perlu merayap dalam menjalaninya.
Sebagai contoh, saya pun mengalami hal ini. Mimpi-mimpi saya tidak dikubur, hanya saja speed dalam meraih mimpi saat ini masih bergerak merayap. Tapi teruslah bergerak maju walau hanya langkah-langkah kecil. Saya yakin insya Allah ada masanya say bisa meroket, melangit dan kembali meraih impian saya. Saat it tiba saya berharap say telah selesai meletakkan fondasi dasar dalam diri anak-anak untuk meraih mimpi mereka. Dan pada akhirnya semua mimpi akan bergabung menjadi cita-cita bersama. Cita-cita di dunia dan akhirat. Insya Allah.
Curhat 4
Teh kiki, mau ikutan curhat dong.. Anak saya laki-laki usia 4 tahun, sebenarnya secara umum anak ini sudah mandiri untuk dirinya sendiri dan sudah bisa diminta tolong untuk ngepel rumah. Namun ada kalanya manja nya muncul dan minta dipakaikan pakaiannya ke saya ataupun ayahnya. Akhirnya sering kali debat dan berujung tangisan si anak. Setiap kali kami ucapkan ""nak, kan sudah besar, sudah bisa pakai baju sendiri, kemaren juga sudah bisa pakai sendiri"".si anak ngeyel ""gak bisa, gak bisa"" sambil nangis..akhirnya mau tak mau kami pun memakaikan pakaiannya. Oiya, teh..begitu pula dengan tidur sendiri, bagaimana tips nya agar anak bisa tidur sendiri ya?? Karena setiap mau tidur, pasti minta pok-pok dan ngaji dulu ayah ibue..🙈
Terimakasih sebelumnya teh"
Jawaban:
Kadang anak itu cuma butuh status aja bu. Bener gak sih emaknya masih sayang dan merhatiin. Ini sama kayak kita kalo lagi manja sama suami. Kadang butuh status doang minta dibantuin. Cuma pengen tau bener gak masih sayang dan merhatiin. Padahal kita bisa sendiri ngerjain. Jd kalo masih wajar sesekali gak apalah..... tanya aja "abang lagi kangen ya sama bunda?" Kalo minta perhatiannya pada topik yg kita tidak mau bantu, tawarkan saja yang lain "abang lagi kangen ya sama bunda, gimana kalo bunda merhatiinnya nemenin main sepeda aja, kalo ini abang bisa kan?" Nah..... Kalo 4 tahun masih mau moment indah sebelum tidur itu masih wajar. Puas puasin aja bund, nanti ada masa dimana kita justru mewek mewek nyariin mereka. Kalo interkasi penutup dengan ngaji dan sentuhan kasih sayang menurut saya justru positif.
Curhat 12
"Assalamualaikum.
Teh, anak saya laki-laki. Bulan februari nanti genap 5 tahun. Skrg sdh sekolah di TK B. Ia sudah mampu berhitung, menulis, dan membaca.
Kami berencana akan memasukkannya di SD bulan juli nanti. Saat itu usianya 5 th 5 bln. Dari segi usia apakah ia sudah siap mental untuk masuk ke jenjang SD? Apa ciri-cirinya?
Catatan: saya dan suami bekerja diluar.
Terima kasih.
Waalaikumsalam"
Jawaban
Silahkan mengikutkan Ananda dalam psikotest untuk melihat apakah Ananda sudah siap mengikuti pelajaran ala SD. Kesiapan tidak hanya ditentukan oleh kemahiran membaca, menulis dan berhitung. Namun Ananda akan mengalami fasa baru dalam lingkungan. Terutama belajar menjalani aktivitas dengan aturan dan jadwal yang lebih terikat.
Ada kondisi tertentu yang mendasari mengapa usia SD itu sebaiknya di usia 7 tahun. Sebagaimana Islam memiliki aturan untuk mengajarkan shalat lebih disiplin di usia 7. Usia dimana anak sudah lebih siap untuk masuk masa pelatihan.
Untuk melihat apakah Ananda termasuk anak-anak yang mampu menjalaninya silahkan ikutkan dalam psikotest untuk mengukur kesiapan.
5⃣ Mimi
🍒1. Teh Kiki, mau bertanya poin No. 5. Maksud menjalankan pekerjaan dgn nikmat seperti apa? Karena saya pribadi pekerjaan yg blm di selesaikan akan menjadi beban sebelum pekerjaan itu selesai.
🍒2. Poin No. 8 Bagaimana caranya menyamakan visi dgn lingkungan sekitar terutama keluarga (orangtua, saudara) agar tdk menimbulkan konflik?
Jawaban
Pekerjaan akan menjadi nikmat atau menjadi beban tergantung bagaimana cara kita memandang pekerjaan itu. Semakin kita bisa menemukan ruh ukhrowi dalam setiap pekerjaan, semakin nikmat menjalaninya meskipun berat. Fisik bisa jadi sama-sama lelah, tetapi setiap orang punya kadar bahagia yang berbeda.
Ada ibu terlahir di negeri perang, beratnya perang sambil menjalankan amanah ibu mungkin tetap terasa nikmat baginya. Namun ada juga ibu yang menjadi marah-marah saat melihat setrikaan menggunung dan cucian piring yang menumpuk. Semua kembali pada kebersihan hati dan cara pandang kita saat berhadapan dengan pekerjaan.
Selama nafas masih ada, selama itulah pekerjaan tidak akan pernah berhenti. Maka pastikan kelelahan dan kesulitan dalam menjalaninya akan bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat, minimal akhirat. Jadi jangan salah memilih tema kesibukan jangan tersasar memilih tema kelelahan.
Lelah itu pasti, berburu pahala itu pilihan. Lelah itu pasti, bahagia itu pilihan. Kita juga berhak memilih tema peperangan. Seperti saya misalnya, lebih suka menghabiskan banyak energi untuk mengajar dan menemani aktifitas anak dibanding menyempurnakan sajian masakan. Maka pekerjaan memasak dibuat lebih simple, karena saya merasa lebih nikmat saat berlama-lama bersama anak dibanding berlama-lama di dapur. Namun ada ibu yang sangat suka masak, serta betul-betul meniatkan masakannya sebagai bukti cinta pada keluarga dan penghambaan kepada Allah.
Silahkan..... Ada Fatimah r.a yang mengurus rumah tangga tanpa khadimat. Ada asma binti Abu bakar yang akhirnya meminta diberi khadimat untuk mengurus hewan tunggangan suaminya yang cukup menguras waktu dan tenaganya. Silahkan pilih tema peperangan anda. Jalani dengan nikmat dan upayakan bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat.
Saat kita merasakan lelah, atur cara pandang kita dalam melihat makna kelelahan. Saat kita merasa sibuk dan pekerjaan rumah tangga menumpuk atur cara pandang kita dalam melihat makna kesibukan.
Semoga kedua puisi saya ini bisa membantu merubah cara pandang kita.
Kala Lelah Melanda
Puisi karya
Kiki Barkiah
Kala lelah melanda
Ingatlah nikmat yang berjuta
Yang membayar semua keringat dan air mata
Yang tak mampu kau hitung dengan sempurna
Apalagi membayarnya dengan tabungan pahala
Kala lelah melanda
Ingatlah bahwa terkadang engkau perlu menunda
Berhenti sejenak bangkitkan diri yang tak berdaya
Mengumpulkan tenaga untuk kembali berdaya upaya
Kala lelah melanda
Ingatlah mereka yang lebih menderita
Melewati hari dengan jauh lebih sengsara
Sementara dalam dirimu terdapat nikmat yang tak mereka punya
Kala lelah melanda
Basahi lisan dengan mengingat Sang Pencipta
Agar rahmat-Nya menutrisi jiwa
Sehingga kau dapat berjuang kembali dengan lebih bijaksana
Kala lelah melanda
Bukalah lembaran kalam ilmu dalam semesta
Agar ayunan kakimu tak menjadi sia-sia
Dan kecerdasan menyertai amalan nyata
Kala lelah melanda
Ingatlah bahwa lelah akan selalu terus melanda
Bagi siapa yang masih bernyawa
Karena istirahat yang sesungguhnya hanya di dalam surga
Kala lelah melanda
Tanya hatimu kau lelah dalam hal apa
Akankah lelah ini mengantarmu menuju surga?
Ataukan kesiaan yang menyeretmu dalam kelelahan di negeri yang sebenarnya
Kala lelah melanda
Ingatlah bahwa hanya dalam surga
Tempat istirahat yang sesungguhnya
San Jose, California
Dari seseorang yang tengah mengumpulkan energi karena dilanda rasa lelah
Dibalik debu dan doa aku berdoa
By Kiki Barkiah
Mengayun sapu adalah bagian dari hariku
Kumpulkan sampah yang berserak dan mengusir debu
Seperti inilah kiranya dosa-dosaku
Yang terusir pergi saat sujud dan ruku
Namun tak lama terkumpul kembali karena salahku
Dibalik debu dan noda aku berdoa
Kuayun sapu, hatiku berbicara
Ya Allah bersihkan diriku dari dosa
Sebagaimana sapu ini kuayun mengusir debu secara merata
Membilas piring kotor adalah bagian dari hariku
Melepas lemak, membilas bersih, melepas aroma bau
Seperti itulah kiranya noda dalam hatiku
Yang terhapus dibasuh air wudhu
Namun tak lama kembali bernoda karena penyakit hatiku
Dibalik debu dan noda aku berdoa
Kubilas piring, hatiku berbicara
Ya Allah hapuskan noda dalam hatiku agar cahaya terpancar dalam jiwa
Sebagaimana air membilas noda dalam piring dan gelas kaca
Mencuci baju adalah bagian dari hariku
Mengucek noda hasil kreasi buah hatiku
Seperti itulah kiranya khilaf sikapku
Yang hanya akan terhapus bila manusia memaafkanku
Namun kembali khilaf tersisip dalam perilaku
Dibalik debu dan noda aku berdoa
Menyikat noda, hatiku berbicara
Ya Allah ampuni dosa karena khilafku pada manusia
Jadikan hati mereka kembali ikhlas dan rela
Sebagaimana sikat ini melepas noda tak bersisa
Melicinkan kain adalah bagian dari hariku
Melipat baju, menata tersusun bagai tumpukan buku
Seperti itulah kiranya kepribadianku
Yang selalu kembali tertata selepas mengkaji kalamMu
Namun kembali berserak saat jauh dari forum ilmu
Dibalik debu dan noda aku berdoa
Kulipat kain, hatiku berbicara
Ya Allah jadikanlah pribadiku selalu kembali tertata
Sebagaimana berkali-kali kain ku susun kembali tertata
Pekerjaan ini memang tak akan ada habisnya
Maka tak ingin kulewati dengan tanpa makna
Apalagi terhiasi dengan keluhan yang menghapus pahala
Dibalik debu dan noda aku berharap surga
Pekerjaan ini memang tidak ada ujungnya
Selama jantung masih berdetak dan bernyawa
Maka kuingin melewatinya sambil mengingat Sang Pencipta
Agar lelah dan tetesan keringat berbuah pangeran surga
Dibalik debu dan noda aku berharap surga
Memang manusia selalu ingin mendapat balasan yang lebih istimewa
Masakan sederhana berharap dibalas hidangan surga
Secangkir teh untuk suami tercinta
Berharap dibalas gelas perak berisi arak surga
Mengurus gubuk biasa berharap dibalas istana surga
Menyempurnakan asi berharap dibalas sungai susu di surga
Untung saja rahmat Allah begitu luas tiada tara
Selalu ada harapan mendapat balasan yang istimewa
Selama amal dipersembahkan hanya untuk Allah semata
Juga keberkahannya menghadirkan keuntungan dunia
Hanya satu tugasku yang paling utama
Bagaimana hadirkan ikhlas dalam setiap amal nyata
Sehinga setiap langkah berbuah pundi pahala
Meski pekerjaan hanya seputar itu-itu saja
Menyapu, mengepel, mencuci dan menyetrika
Namun tak ingin ku lewati dengan tanpa makna
Dibalik debu dan noda aku berharap surga
San Jose, California
Dari seorang ibu berdaster yang berharap surga dengan berusaha menggali makna dibalik pekerjaan yang itu-itu saja
Kemudian untuk pertanyaan 5 point nomer 2 bisa dijawab dengan artikel pada jawaban kulwap lain dengan pertanyaan serupa
Bismillahirahmannirohim
Pertanyaan:
Bagaimana mensinergikan pola asuh orangtua dengan kakek dan nenek anak-anak, kadang kita sebagai orang tua sudah berusaha konsisten kepada anak-anak. Tetapi karena sayang kepada cucu, nenek kakek suka melonggarkan aturan-aturan yang sudah orang tua disepakati bersama anak.
Jawaban teh kiki Barkiah:
Dalam pandangan saya untuk mensinergikan pola asuh kedua belah pihak, pastikan dulu titik akhir yang ingin dicapai sama. Karena apabila titik akhirnya tidak sama biasanya akan lebih banyak lagi perbedaan dalam perjalanannya. Apabila visi misi dan definisi kesuksesan seorang anak telah sama, mungkin hanya akan timbul perbedaan dalam tataran teknis aja.
Tetapi perlu kita pahami bahwa bagaimanapun pola asuh orang tua dan nenek kakek ini tidak mungkin betul-betul sama. Karena apa? Karena kondisinya memang berbeda. Bahkan kondisinya bisa jadi sangat berbeda ketika mereka dahulu mendidik kita sebagai anak dan ketika kini mereka berinteraksi dengan cucu cucu mereka.
Secara umum kakek nenek memang mengalami hal seperti itu. Walaupun mungkin ada nenek kakek spesial yang memiliki visi pendidikan yang sangat kuat sehingga pola asuh tidak dipengaruhi oleh hubungan nenek kakek cucu tetapi hubungan antara pendidik dengan yang dididik. Atau ada juga nenek kakek yang kurang memahami metode pendidikan cenderung kontraproduktif dalam upaya pendidikan anak
Mengapa kasih sayang nenek dan kakek sering sekali berbenturan dengan pola asuh orang tua? Pertama kita harus pahami dulu bahwa sangatlah wajar bila ada perbedaan sikap antara nenek kakek ketika berhadapan dengan cucu dan ketika berhadapan dengan kita sewaktu kecil sebagai orang tua. Mengapa dahulu mereka lebih mudah marah, lebih mudah melarang, lebih mudah membuat suatu aturan saat menjadi orang tua. Namun kini mereka lebih mudah mengekspresikan bentuk kasih sayang melalui hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan segala apapun yang dinginkan oleh cucu-cucu mereka . Hal ini sebenarnya terkait dengan perbedaan kondisi.
Pada umumnya saat kakek dan nenek mendidik kita dulu, mereka berada dalam kondisi yanh sedang merintis rumah tangga. Namun saat kini mereka bertemu dengan cucu-cucu, pada umumnya sudah dalam kondisi lebih mapan. Ketika dulu, orang tua kita memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kita sebagai anak, mereka juga juga tengah berada dalam susana yang penuh dengan berbagai tekanan dalam rangka pemenuhan kebutuhan merintis keluarga. Sehingga tingkat kesabaran saat mendidik anak can cucu berbeda.
Kemudian selanjutnya, dulu mereka yakin bagaimanapun caranya mereka mendidik anak, anak tidak akan lari. Ia akan tetap kembali kepada orang tua. Tapi nenek dan kakek sering takut bila cucu-cucunya tidak dekat. Sehingga mereka khawatir bila cucu mereka tidak mau dekat dengan nenek kakek apabila mereka galak. Terlebih lagi pada umumnya nenek dan kakek itu merasakesepian dihari tua dan sangat merindukan kedatangan cucu cucu mereka. Oleh karena itu untuk membuat anak-anak merindukan nenek kakek salah satu cara yang paling mudah adalah memberikan apa yang di inginkan oleh cucu.
Selain itu, ketika dulu nenek kakek menjadi orangtua, mereka dalam kondisi ekonomi yang mungkin masih merintis, sehingga ada perasaan bersalah dari nenek dan kakek ketika dia tidak bisa memenuhi apa yang di inginkan anak-anak mereka ketika kecil. Maka balas dendam kasih sayang diberikan kepada cucu-cucu mereka karena ingat bahwa dulu ayah ibunya tidak sempat mendapatkannya. Hal seperti ini serinf membuat kita bergesekan dengan nenek dan kakeknya anak-anak. Oleh karena itu pahami cinta yang berbeda antara nenek kakek dan ayah ibu ini. Kita tidak bisa mengubur hal ini karena fitrahnya seperti itu. Maka berikan ruang-ruang cinta, berikan ruang-ruang untuk kakek dan nenek ini menyalurkan cinta mereka kepada cucu-cucunya ya memang khas sekali. Tidak semua harus diangkat sebagai konflik, tidak semua harus dibahas sebagai perbedaan, anggap saja perbedaan-perbedaan, kelonggaran aturan itu sebagai hiburan bagi anak anak kita, selama bukan termasuk perbuatan dosa. Selama tidak secara tegas disampaikan oleh Allah dalam al-qur’an atau hadist Rasulullah SAW sebagai suatu larangan atau perintah maka masih fleksibel. Karena itu hanya aturan antara kita dan anak-anak.
Sebagai contoh sesekali menerima jajanan dari nenek dan kakek demi bakti kita kepada orangtua. Dari pada kemudian gara-gara makan permen atau sncak kemudian kita berselisih dan tidak berbakti kepada orangtua kita. Sebaiknya kita mencari yanh mudah selama itu bukan perbuatan dosa. Aanggap saja itu liburan dari aturan dan jadwal keseharian anak-anak. Selama porsinya tidak berlebihan, tidak membahayakan mereka, tidak menjerumuskanmereka kedalam kemudharatan. Kecuali apabila sikap mereka membahayakan atau menjerumuskan berarti kita harus speak up. Speak up nya dalam rangka menyelamatkan keturunan bersama, demi kebaikan keturunan bersama.
Jadi silahkan duduk bersama orangtua sebagai manusia dewasa yang menginginkan generasi keturunan mereka yang lebih baik. Saatnya kita perlu bicara, saatnya kita perlu perbaikan, silahkan didiskusikan diatas rasa hormat kita kepada mereka. Kita yang seharusnya bisa mengenal orang tua kita, maka carilah cara terbaik untuk mempengaruhi pikiran mereka. Apakah dengan bicara langsung, apakah dengan mengabarkan kisah tentang kekuarga lain, apakah dengan memberikan buku atau mengajak ke seminar parenting. Namun jangan semua hal kecil harus kita angkat menjadi masalah besar sehingga membuat kita sendiri menjadi renggang hubungannya dengan nenek dan kakeknya anak-anak. Apalagi sampai memisahkan nenek kakek dengan cucu-cucu mereka supaya tidak terlalu dekat. Kita sudah dewasa, bisa menilai mana yang sekiranya bisa membahayakan dan mana yang masih bisa ditoleransi. Yang wajib adalah berbakti kepada orang tua dan menyenangkan orangtua kita. Salah satunya dengan mengikuti keinginan orangtua kita dalam rangka memberikan kebahagiaan untuk mereka. Salah satunya dengan terkait pola asuh bersama dengan cucu-cucunya.
*Kurikulum Homeschooling Keluarga Kiki Barkiah dan Aditya Irawan*😍
✅ ✊🏼*VISI*:
Membangun Generasi Keturunan yang Sholih, Muslih, Hafizh dan Produktif
✅✊🏼 MISI :
🎯Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam
🎯 Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam syariah
🎯 Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam.
🎯 Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain
🎯 Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar
🎯 Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dunia islam
🎯 Mendidik keturunan yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban
🎯 Mendidik keturunan yang dapat mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban
🕌 *KUALIFIKASI Anak Yang Ingin Dicapai* 🕌
✅🎯 ```1. Mendidik Keturunan yang Berkomitmen Akidah dan Ideologi Islam```
👶🏻 *1.1 Anak Mengenal Allah*
🚦1.1.1 _Anak memahami Tauhid Rububiyah_
🔅Allah sebagai pencipta.
🔅Allah sebagai pemberi rezeki
🔅Allah sebagai Pemilik.
🏆OUTPUT:
🎖Anak memiliki kepribadian yang selalu bersyukur kepada Allah
🚦1.1.2 _Anak memahami Tauhid Mulkiyah_
🔅 Allah sebagai pemimpin.
🔅 Allah sebagai pembuat hukum
🔅 Allah sebagai pemerintah
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak selalu berupaya menjalankan seluruh aktifitas yang sejalan dengan hukum Allah
🚦1.1.3 _Anak memahami Tauhid Uluhiyah_
🔅 Allah yang disembah
🏆 OUTPUT:
🎖 Seluruh amal perbuatan anak-anak tidak sia-sia karena ditujukan kepada Allah
👶🏻 *1.2 Anak Mengenal islam*
🚦1.2.1 _Anak mengenal konsep "Islam The Way of Life"_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak termotivasi untuk belajar Al-Quran sepanjang hayat
🚦1.2.2 _Anak mengenal konsep syumuliatul islam dalam sisi ruang, waktu, dan seluruh aktifitas_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak beristiqomah dalam iman islam
👶🏻 *1.3 Anak Mengenal konsep hari akhir dan negeri akhirat*
🚦 _Anak mengenal konsep pertanggungjawaban amal perbuatan_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak termotivasi untuk mempersiapkan kehidupan di negeri akhirat
👶🏻 *1.4 Anak mengenal malaikat*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak termotivasi untuk selalu berbuat amal shaleh
👶🏻 *1.5 Anak menyadari bahwa syaitan adalah musuh nyata baginya*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak selalu berupaya melawan dan menjauhi syaitan serta perbuatan yang akan menjadikan dirinya sebagai teman syaitan
✅ 🎯```2. Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam syariah```
🐣 *2.1 Anak mengenal konsep “Rasulullah sang Teladan”*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak menjadikan Rasulullah SAW sebagai idolanya
🐣 *2.2 Anak mengenal konsep bahwa mengaplikasikan islam berarti meneladani/itiba Rasulullah*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak belajar mengaplikasikan sunnah Rasulullah dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian
✅🎯 ```3. Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam.```
👶🏻 *3.1 Anak memiliki akhlak yang baik terhadap Allah*
📌3 .1.1 _Anak Membangun kedekatan dengan Allah_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak mengaplikasikan doa-doa harian
🎖 Anak senantiasa berdoa kepada Allah atas apapun yang diinginkan
🎖 Anak terlatih melakukan Qiyamul lail minimal 3x seminggu di usia 14 tahun
🎖 Anak tebiasa melakukan dzikir Al-matsurat minimal 1x sehari
🎖 Anak terbiasa membaca Al-quran 1 juz per hari di usia 14 tahun
🎖 Anak memiliki budaya menghafal Al-Quran setiap hari
📌 _3.1.2 Anak beribadah dengan Ikhlas dan ihsan_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak dapat melakukan ibadah mahdoh dengan baik dan benar minimal dalam ibadah wudhu, tayamum, shalat, dan shaum
🎖 Anak gemar melakukan sedekah
🎖 Anak berkomitmen mengerjakan shalat 5 waktu di usia 7 tahun
🎖 Anak laki-laki komitmen shalat di masjid di usia 10 tahun
👶🏻 *3.2 Anak memiliki akhlak yang baik terhadap manusia*
🌷3.2.1 _Anak memiliki akhlak yang baik terhadap orang tua_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memahami dan mengaplikasikan birul walidain
🎖 Anak hormat dan patuh pada guru
🎖 Anak mampu menempatkan diri mereka sebagai simpanan terbaik bagi orang tua mereka di akhirat kelak
🌷3.2.2 _Anak memiliki akhlak yang baik terhadap muslim_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki budaya saling menasihati
🎖 Anak memiliki budaya tolong-menolong dalam kebaikan
🎖 Anak terlatih melakukan amar ma’ruf nahi mungkar
🌷3.2.3 _Anak memiliki akhlak yang tepat terhadap non Muslim_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak bersikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama
🎖 Anak mengenal aturan islam yang mengatur hubungan dengan muslim dengan non muslim
👶🏻 *3.3 Anak memiliki akhlak yang tepat terhadap lawan jenis*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak mengenal adab-adab pergaulan dengan lawan jenis yang diatur oleh islam
🎖 Anak terhindar dari fitnah yang berkaitan dengan kebebasan pergaulan lawan jenis
👶🏻 *3.4 Anak memiliki akhlak yang baik terhadap alam*
🌳3.4.1 _Anak mengenal konsep khalifah di muka bumi_
🌳3.4.2 _Anak mengenal beberapa pemanfaatan alam_
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak selalu berusaha menjaga alam
🎖 Anak memiliki budaya berkarya memanfaatkan alam
👶🏻 *3.5 Anak memiliki kepribadian/karakter mulia*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak mengenal konsep, berlatih mengaplikasikan dan senantiasa meningkatkan karakter-karakter berikut
👍🏾 Baik hati, sederhana, murah hati, adil, ramah, sopan, pemaaf, rendah hati, memenuhi janji, jujur, rela berkorban, penuh cinta, humoris, pemberani, bersahaja, tulus, bertekad kuat, tidak berlebihan, zuhud, gigih, gemar menolong, memudahkan urusan
✅🎯```4. Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain```
👶🏻 4.1 *Anak mengenal konsep mencintai karena Allah membenci karena Allah*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki budaya saling tolong menolong dalam kabaikan dan ketaqwaan
🎖 Anak menghindari sikap saling tolong-menolong dalam keburukan dan kemaksiatan
👶🏻 4.2 *Anak mengenal konsep berkomunikasi efektif dan bekerjasama dalam tim*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki akhlak komunikasi yang baik dengan orang lain
🎖 Anak terlatih bekerjasama dalam tim
✅🎯```5. Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar```
👶🏻 5.1 *Mengenal konsep amar ma’ruf nahi mungkar*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki jiwa yang senantiasa melakukan perbaikan (islah) pada lingkungan sekitar
✅🎯```6.Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dunia islam```
👶🏻 6.1 *Anak mengenal konsep muslim itu bersaudara*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak merasa bagian dari ukhuwah islamiyah
memperlakukan sesama muslim layaknya saudara
👶🏻 6.2 *Anak mengenal isu-isu global dunia islam khususnya palestina*
🏆OUTPUT:
🎖 Anak memiliki kepedulian terhadap nasib saudara-saudara muslim di palestina yang diwujudkan dalam hal-hal sederhana seperti doa dan dana
👶🏻 6.3 *Anak mengenal konsep khilafah islamiyah*
👶🏻 6.4 *Anak mengenal sejarah kejayaan islam di masa lalu*
👶🏻 6.5 *Anak Mengenal sejarah perjuangan islam di masa Rasulullah SAW*
👶🏻 6.6 *Anak mengenal sejarah dunia dan faktor penyebab kejayaan dan keruntuhan sebuah bangsa*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki semangat berkarya untuk membangun islam
✅🎯```7. Mendidik keturunan yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban```
👶🏻 7.1 *Anak Mengenal Potensi Diri dan Mengenal cara mengembangkan potensi diri*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki budaya belajar dan berkarya sepanjang masa
👶🏻7.2 *Anak Mengenal konsep jihad secara luas*
🏆 OUTPUT:
🎖 Anak memiliki cita-cita berkontribusi di jalan Allah dan semangat untuk mewujudkannya
👶🏻7.3 *Anak mengenal sebanyak-banyaknya pilihan peran/profesi untuk berkontribusi di jalan Allah*
✊🏼7.3.1 _Anak mengenal variasi peran di bidang pemikiran/ilmiah_
✊🏼7.3.2 _Anak mengenal variasi peran di bidang kepemimpinan_
✊🏼7.3.3 _Anak mengenal variasi peran di bidang keahlian/profesi_
✊🏼7.3.4 _Anak mengenal variasi peran di bidang finansial_
🏆OUTPUT:
🎖 Anak telah menentukan spesifikasi ilmu yang akan dipelajari untuk mengemban peran kekhalifahan yang telah dipilihnya di usia 14 tahun
🎖 Anak telah mulai menjalankan peran kekhalifahan yang ingin diemban di usia 21 tahun
Curhat:
anak saya umur 13 tahun, dia sekolah boarding school, setiap dua minggu sekali dijenguk, dan selalu minta bawain hp untuk main game online, alesannya jenuh, jadi tidak pernah ada waktu ngobrol, begitu juga ketika dia pulang liburan yang dipegang hp terus 😢 kalo di larang dia bilang bosen lah diasrama kan kegiatannya banyak, jadi pas liburan dia maunya main aja, diajak keluar pun susah, bagaimana ini teh solusinya.... oo iya dia anaknya pemarah, kadang adeknya atau barang yang jadi sasaran kekesalannya.
Jawaban
*Teh Kiki Barkiah*
Bila sesekali ingin merasakan bermain hp saat libur pesantren saya kira sangat wajar. Namun bila bermain hp dengan frekuensi yang sering karena kejenuhan dalam melaksanakan program pendidikan di pesantren, maka perlu kita lihat lebih dalam permasalahannya agar kita bisa mengatasinya. Apakah metode pendidikan yang dilakukan pesantren sudah cocok dengan tipe belajar ananda. Atau bisa jadi Ananda sampai saat ini belum menemukan keyakinan dan alasan kuat mengapa ia harus menjalani pendidikan ini. Sehingga apa yang ia lakukan belum muncul dari panggilan jiwanya. Barangkali proses membentuk konsep diri sebagai seorang muslim belum terlalu ajeg. Sehingga ia tidak menjalankan perannya berdasarkan pemahamannya. Bila hal ini yang terjadi, maka ibu harus secara aktif berikhtiar agar ananda dapat lebih memahami apa dan untuk apa perannya saat ini.
Apabila hp lebih dirindukan daripada bercengkrama dengan keluarga, maka perlu di evaluasi bagaimana selama ini kita membangun pola asuh dengan anak. Jangan-jangan kita belum berhasil membangun ikatan hati yang kuat dengan anak. Apalagi dalam kisah ibu, dikatakan bahwa Ananda pemarah. Barangkali ada Hal yang terlewat di masa kecil sehingga Ananda kurang dekat dengan kita bahkan sering mencari perhatian negatif dengan melakukan kemarahan kepada adik misalnya. Bila hal ini yang terjadi maka kita perlu merajut kembali ikatan batin diantara kita dengan anak.
Jangan lupa persiapkan kegiatan liburan bermakna setiap anak pulang dari pesantren. Agar ia punya kegiatan positif yang dapat menghilangkan kejenuhan tetapi tidak dengan cara menghabiskan banyak waktu di depan gadjet. Kemudian disaat yang sama kita pun dapat memperkuat ikatan hati diantara kita. Memperbanyak kesan yang dapat dikenang dalam hati anak-anak. Dengan membahagiakan mereka dalam moment spesial biasanya membiat jarak dianta kita semakin mendekat. Sehingga memudahkan kita menyampaikan harapan dan keinginan kita kepada mereka.
*Bukan Karenamu, Bunda*
Karya *Kiki barkiah*
Bukan karenamu, bunda
Mereka tercipta
Juga bukan karenamu
Mereka terlahir ke dunia
Hanya sekedar melalui perantara rahimmu
Bahkan bila sang Pencipta telah menggores tinta
mungkin mereka akan tetap ada
Meski bukan engkau sebagai perantara
Bukan karenamu, bunda
Mereka tumbuh sehat raganya
Juga bukan karenamu
Mereka kuat jiwanya
Hanya sekedar melalui perantaramu
yang penuh cinta dan usaha
sekiranya engkau tak memilih berupaya
mereka akan tetap berada dalam takdirnya
jika bukan melaluimu, maka kan ada jalan yang berbeda
dan pilihanmu tentukan kadar ganjarannya
Bahkan bila sang Pencipta telah menggores tinta
Bahwa hasil berkata sebaliknya
Mudah saja menjadi nyata
Meski susah payah berusaha
Bukan karenamu, bunda
Mereka beradab dan beragama
Juga bukan karenamu
Mereka berilmu dan berdaya
Hanya sekedar melalui perantaramu
yang ikhlas mendidik sepenuh jiwa
sekiranya engkau tak memilih berupaya
mereka akan tetap berada dalam takdirnya
jika bukan melaluimu, maka kan ada jalan yang berbeda
dan pilihanmu tentukan kadar ganjarannya
Bahkan jika Sang Pencipta telah menggores tinta
takkan ada yang mampu menjerumuskan
untuk mereka yang Allah selamatkan
takkan ada yang mampu menyelematkan
untuk mereka yang Allah biarkan
Karena bukan karenamu
apalagi yang membuatmu gelisah
saat kelak engkau berpisah
sementara mereka pernah terpelihara
jauh sebelum engkau bersamanya
karena bukan karenamu
apalagi yang membuatmu tak tenang
saat kelak engkau berpulang
sementara mereka dijaga Sang Maha Penyayang
kerena bukan karenamu
kembaikan lagi titipan ini pada pemiliknya
sementara di hari jiwa terpisah raga
kau pu takkan sanggup pikirkan apa-apa
selain amal yang yang kau harap menurunkan rahmat-Nya
Selagi kau terus berupaya
melakukan apa yang kau bisa
mewarisi ilmu yang akan menuntun mereka
insya Allah bersama Pemiliknya
mereka akan baik-baik saja
================================
puisi ini saya tulis sebagai jawaban curhatan seorang bunda yang merasa khawatir dengan keadaan keluarganya jika kelak beliau meninggal
San Jose, california
Dari seorang ibu yang menitipkan keluarganya kepada Sang Pencipta dan Pemiliknya
❓Pertanyaan:
Sejak usia berapa sebaiknya anak diperkenalkan dengan gedget walaupun itu merupakan konten edukatif?
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Sebelum usia 2 tahun sebaiknya anak tidak terpapar gadget sama sekali meskipun konten bersifat edukasi. Permasalahannya bukan pada apa yang mereka lihat karena biasanya produk edukatif juga memiliki konten-konten yang positif. Permasalhannya terletak pada apa yang tidak mereka lakukan. Terutama bila anak-anak diusia sebelum 3 tahun terpapar oleh multimedia dalam durasi yang lama.
Mengapa? Karena pada masa-masa 3 tahun awal kehidupan manusia, kita semua sepakat bahwa itu masa keemasan dalam perkembangan otak. Perkembangan otak anak sangat pesat dimasa itu, oleh karena itu kita membutuhkan stimulasi yang merangsang sensor motorik mereka yang sangat berguna bagi perkembangan otak mereka. Yang perlu kita khawatirkan apabila anak terpapar multimedia, maka anak tidak secara aktif mengeksplore benda-benda di sekitar lingkungan.
Bila berbicara kapan waktu yang tepat anak berinteraksi dengan gadjet adalah diatas 2 tahun. Namun tentu lebih baik lagi, apabila setelah 2 tahun anak belum banyak terpapar dengan gedget. Silahkan optimalkan kegiatan belajar melalui buku-buku, melalui alam, dan belajar melalui fenomena kehidupan sehari-hari. Anak yang tidak banyak terpapar multimedia, biasanya akan lebih aktif mengoptimalkan semua indra mereka dengan melihat dan merasakan lingkungan. Tentunya ini akan sangat bermanfaat di masa depan.
Namun begitu, ada banyak informasi positif yang bisa didapat melalui gedget. Agar gadget menjadi bagian dari pembelajaran mereka, aturlah konten dan waktu. Diatas 2 tahun kita dapat menggunakan gedget sebagai tool tambahan dalam proses belajar anak-anak. Yang tidak boleh dilakukan adalah mengidentikkan gadjet sebagai sarana bermain kids jaman now. Banyak orang tua yang berfikir bahwa bermainnya seorang anak hari ini identik dengan bermain gedget. Sehingga anak menghabiskan sisa waktu diluar waktu sekolah dengan gadjet. Padahal gadjet hanyalah salah satu tools untuk bermain dan belajar. Sementara masih banyak tools lain untuk bermain dan belajar
Bahkan ketika anak-anak bermain dengan tidak terstruktur sekalipun, tetap lebih baik dibanding anak-anak menonton multimedia. Mengapa? Karena dalam bermain walaupun tidak terstruktur, mereka belajar banyak hal. Belajar menyelesaikan masalah, belajar menyelesaikan tugas, merangsang indrawi mereka, merangsang imajinasi mereka.
Sebisa mungkin informasi yang ada di multimedia, selama masih dapat disampaikan melalui buku yang sepadan, lebih baik disampaikan melalui buku. Karena kerja otak anak lebih aktif saat dibacakan cerita dibanding dengan melihat ilustrasi video multimedia. Sebagai contoh ketika kisah yang dibacakan mengatakan tentang pintu yang terbuka dengan pelan-pelan, maka otak anak akan secara aktif membayangkan. Namun dalam film kita hanya tinggal melihatnya tanpa perlu membayangkannya. Allahu alam.
:: Menciptakan Rumah Surga Tanpa Teriakan ::
1. Semua orang menginginkan rumah tangga layaknya surga, agar penghuninya betah di dalamnya.
2. Ciri utama penduduk surga di antaranya bicara yang lembut. Tidak suka teriak atau membentak.
3. Kebiasaan berteriak justru merupakan ciri penduduk neraka. (QS 35:37)
4. Maka jika ada suara teriakan di dalam rumah, itu artinya suasana surga sudah berganti suasana neraka.
5. Kebiasaan teriak atau bicara melebihi desibel suara normal akibatnya akan mengeringkan cinta.
6. Sejatinya, cinta adalah kelembutan. Dan tidaklah sesuatu disertai kelembutan kecuali akan memperhiasnya (Hadits)
7. Itulah kenapa bukti cinta kepada Allah diminta kita tuk berdzikir dengan suara yang lembut, tidak berteriak di hadapan-Nya. (QS
7:205)
8. Kebiasaan berteriak di dalam rumah tangga sejatinya akan mengurangi rasa cinta.
9. Tidak pernah kita lihat sepasang kekasih yang dimabuk cinta berbicara sambil teriak-teriak. Kebalikannya, mereka malah suka bisik-bisik.
10. Pelan. Tapi nge-jlebb ke hati. Sebab meski tanpa suara, hati berteriak memproklamirkan cinta.
11. Penting bagi setiap keluarga yang merindukan suasana surga, agar mengurangi teriakan di dalam rumah, terlebih untuk anak-anak kita.
12. Kebiasaan berteriak atau membentak di depan anak diakui oleh para ahli akan mengaktifkan batang otak anak.
13. Batang otak itu yang disebut otak reptil atau otak refleks.
Anak cenderung merespon masalah tanpa berpikir.
14. Diledek teman refleks memukul. Ini tersebab batang otaknya
lebih dominan daripada korteksnya, yang ajak dia untuk berpikir.
15. Anak yang batang otaknya menebal cenderung merespon sesuatu dengan prinsip 'flight or fight'.
16. Solusi akan jarang keluar dari anak dengan model begini. Yang ada adalah memuaskan emosi semata.
17. Maka, anak-anak yang gampang marah, tawuran dan sebagainya bisa dibilang karena batang otaknya cenderung lebih dominan.
18. Dan kalau ditelusuri penyebab awalnya, yakni kebiasaan dibentak atau diteriaki dari kecil baik oleh ortu atau guru di sekolah.
19. Dampak berikutnya dari kebiasaan berteriak di hadapan anak adalah: menghancurkan sel-sel otaknya.
20. Satu kali teriakan kepada anak di bawah usia 5 tahun akan menghancurkan 10ribu sel otaknya setiap teriakan.
21. Hitung deh sudah berapa kali bentak anak. Kalikan 10rb. Maka, itulah dosa kita yang membuat anak kita gak pintar-pintar.
22. Berteriak ini belum tentu membentak. Bisa jadi sekedar bercanda untuk menyemangati. Ini tetap bahaya dan terlarang untuk dilakukan.
23. Kalau mau teriak di lapangan saja, dimana jarak ke anak kira-kira seratus meter.
24. Kembali kepada inti rumah tangga Surga. Yakni kebiasaan bicara lembut. Bahkan bisik-bisik di telinga anak untuk tumbuhkan cinta.
25. Tentu kelembutan ini bukan berarti abaikan ketegasan.
26. Sebab ketegasan itu bisa dilakukan tanpa harus berteriak-teriak.
27. Jadi, jika ada yang teriak-teriak di rumah kita, katakan: ini rumah surga. Di surga bicaranya lembut. Hanya penduduk neraka yang suka teriak.
28. Kesimpulannya, jika ingin memperbaiki pola asuh dan hubungan harmonis dalam rumah tangga, perbaiki cara komunikasi kita.
29. Dengan perbaikan komunikasi, maka menjadi baiklah amalan kita yang lainnya (QS. 33:70-71)
(Penulis: Satria Hadi Lubis (Parenting Club) fanspage Family Guide/edited: rawk)
Diambil dr buku terbaru *Kiki Barkiah*
📚 *SATU ATAP LIMA MADRASAH*
Shiddiq: "Ummi, where do we come out from your body?"❓
Ummi: "Dari *lubang kelahiran* di tubuh Ummi, tapi kalau teteh Shafiyah dikeluarin dr perut ummi yg dioperasi, jadi teteh ga keluar dr lubang kelahiran spt shiddiq."...📌
Shiddiq, " Ummi, I was thinking about where the "lubang kelahiran" is? Is that here?🤔 (Shiddiq menunjuk kaki bagian atas saya.
Ummi, *"Lubang kelahiran itu letaknya dekat lubang tempat keluar pipis, tempatnya ada di bagian tubuh yg merupakan aurat,* makanya ummi gak bisa tunjukkan sama Shiddiq."
Shiddiq: "Ooooh OK!🆗
📚 *SATU ATAP LIMA MADRASAH*
_Berhati2lah memilih mereka (ART, day care, kerabat) krn mereka pun GURU bagi anak2 kita_
Sikap ART mrk sangat kasar. Kalau tdk mau makan🍛 saja, sendok🥄 akan dipaksa masuk ke mulut anak2 dg ancaman.
Secara verbal anak2 pun terbiasa dg komunikasi berupa ancaman, sindiran, nada melecehkan atau kemarahan...
Saya lbh merasa kaget dg jawaban sang ibu majikan, "Ya abis gimana, biarin ajalah, soalnya kalau bibi ga ada saya repot"... ❗
Suami saya pun berkomentar, " Jadi lebih milih mengorbankan anaknya daripada kehilangan pembantu?"❓❓
Suami saya sangat paham bahwa *anak2 yg bertahun2 dididik dg _pola komunikasi menyimpang_ akan memiliki masalah dlm perkembangan emosional di masa depan.* Yg membawa efek jangka panjang *terkait dg kemampuan mrk dlm berfikir logis, menganalisa masalah, memecahkan masalah, dan kemampuan dlm berpikir dan bertindak secara efektif.*
_Tingkah laku, pola komunikasi, pola pikir mrk juga turut membentuk kepribadian anak2 kita_(Hal. 230-233).
8⃣ Bunda Solehah 2
🍒1. Suami saya ke anak pertama kami yg laki2 kurang dekat mba. Selain karna suami lebih banyak menghabiskan waktu di luar krna pekerjaan dan amanah lainnya, sepertinya suami saya kebawa2 sifat ayahnya dulu waktu mendidik beliau. Keras dan tidak dekat. Bagaimana cara untuk bisa mengakrabkan keduanya ya mba?
🍒2. Mba mengurusi anak2 dan urusan domestik tanpa bantuan ART. Bagaimana cara mba mengatur waktu dri mulai bangun tidur sampai tidur lagi hingga semua bisa terhandle dengan mba sendiri?
Jawaban *Teh Kiki Barkiah*
Para ayah perlu memahami pentingnya peran ayah dalam pengasuhan, terutama pengasuhan anak laki-laki. Para ayah perlu mengetahui dampak negatif terkait fenomena masyarakat yang berawal dari krisis keberadaan ayah dalam keluarga. Anak laki-laki perlu sentuhan pendidikan ayah untuk menjadi seorang muslim sejati. Salah satu jalan untuk mempengaruhi jiwa anak adalah dengan bermain. Coba carikan tematik kegiatan yang sama sama digemari oleh ayah dan anak. Mintalah suami bermain dan berlibur bersama dengan anak anak. Bila perlu secara privat dan rasakan dampaknya.
Nah untuk mempengaruhi pandangan suami terkait perubahan ini, silahkan simak penjelasan berikut:
Suami harus bisa memahami pandangan dan perasaan istri. Oleh karena itu kita harus memiliki budaya terbuka dan waktu rutin untuk berbagi rasa diantara suami dan istri. Itulah salah satu fungsi menikah, memberikan ketentraman. Ketentraman muncul karena ada proses berbagi rasa, berbagi suka dan duka dan bekerjasama. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam mempengaruhi pandangan dan sikap suami
1. Beri kesempatan suami memahami pola pendidikan islam dalam meluruskan perilaku anak. (Artikel terpisah) Memberi pemahaman bs dilakukan oleh kita atau lewat ceramah ustadz, seminar atau lewat artikel dan buku yang kita hadiahkan. Harapannya dengan memahami beliau tidak akan hanya menyalahkan tapi memberi solusi, mendukung dan mengambil bagian dalam proses pendidikan anak.
2. Lakukan pendekatan melalui logika, salah satunya terkadang lebih efektif mendengar penjelasan dari ahli daripada dari lisan kita
3. Gunakan pesona wanita. Sehingga mampu menempatkan diri sebagai pihak yang perlu dibantu, didukung dalan melakuan pola asuh yang baik. Bukan sebaliknya menyalahkan suami secara langsung sehingga meruntuhkan harga dirinya
4. Gunakan waktu "rapet" untuk rapat. Biasanya sesudah kebutuhan biologis suami terpenuhi, mereka cenderung lebih terbuka untuk mendengar kata hati kita.
5. Ingat bahwa lelaki sangat merasa ia berharga ketika kita meminta dukungan dan pertolongannya. Hindari komunikasi "kamu salah" tapi gantikah dengan komunikasi "aku membutuhkanmu melakukan ini itu"
6. Doakan suami, semoga Allah memperbaiki keadaan beliau.
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Ikhtiar Memperbaiki Akhlak Anak
-kiki barkiah-
1. Hormatilahi hak mereka, keinginan mereka, pendapat mereka. Terlalu sering mengabaikan perasaan, pandangan dan pendapat mereka dapat membuat mereka pun tak merasa perlu untuk menghargai harapan dan keinginan orang lain.
“Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)
2. Meluruskan akhlak dengan penuh kesabaran dan kelembutan
Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a: RasulullahSAW bersabda “Sesungguhnya Allah Maha lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberi atas kelembutan apa yang tidak Dia beri atas kekasaran dan lainnya”
3. Hadirkan sosok Rasulullah sebagai teladan akhlak yang sempurna
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
4. Teladani metode Rasulullah dalam mendidik anak
Dari Ibnu Abbas r.a: Rasulullah SAW, “ajarilah, permudahlah, jangan engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya diam” (H.R Ahmad dan Bukhori)
5. Perbanyak memberi teladan
Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: “Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Nabi SAW biasa bangun untuk shalat malam. Suatu malam, Nabi SAW bangun, kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu, beliau shalat. Aku pun berwudhu sama seperti wudhu beliau. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Namun beliau menarikku dan meletakkanku di samping kanan beliau. Kemudian beliau shalat beberapa rakaat….”
6. Lembut dan tidak kasar
Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a: rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya,dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan mencemarinya"
7. Tenang dan tidak terburu-buru
Diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas r.a: Rasulullah SAW bersabda kepada Asyaj bin Abdil Qais, “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah: tenang dan tidak terburu-buru
8. Tahan Marah
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran[3]: 134)
9. Memperbanyak maaf dan tidak memarahi
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengamun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Q.S At Taghabun[64]:14-15
10. Marah karena Allah
Dari Aisyah r.a, ia berkata “Tidaklah Rasulullah SAW menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah diantara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah SAW marah untuk dirinya sendiri dalam masalah apapun kecuali apabila syariah Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah SWT” (Muttafaqun ‘alayh)
11. Menguasai diri saat marah
Dari Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW bersabda, “Seorang yang pemberani bukanlah orang yang pandai berkelahi. Orang yang pemberani adalah orang yang mampu menguasai diri ketika marah” (Muttafaqun Alayh)
12. Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa
Dari Aisyah r.a, ia berkata “Tidaklah Rasulullah SAW menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah diantara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah SAW marah untuk dirinya sendiri dalam masalah apapun kecuali apabila syariah Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah SWT” (Muttafaqun ‘alayh)
13. Toleransi
Dari Ibnu Mas’ud r.a: Rasulullah SAW bersabda “Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang orang yang haram masuk neraka dan neraka haram atasnya? Setiap orang yang mudah, dekat dan toleransi
14. Seimbang dan Proporsional
Rasulullah ﷺ bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari orang lain. Siapa saja diantara kalian yang menjadi iman, hendaknya memendekkan shalatnya, karena sesungguhnya yang berdiri di belakangnya adalah orang tua, anak kecil, dan orang yang sedang memiliki keperluan”
(Muttafaqun ‘alayh)
15 Memperhatikan waktu yang tepat saat menasihati (waktu makan, dalam perjalanan, saat anak sakit)
Diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas r.a, ia berkata: Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi ﷺ sakit. Nabi ﷺ datang menjenguknya. Beliau duduk didekat kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk islamlah engkau. “ Dia melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata, “Turutilah Abul Qasim.” Maka, dia pun masuk Islam, Nabi ﷺ pergi sambil berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka”
16. Berprasangka baik pada Allah
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik Dan bergaullah dengan mereka secara baik-baik; jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah swt. menjadikan di dalamnya banyak kebaikan. (Q.S. An Nisa :20),
17. Bersedekahlah
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan sisi Allah pahala yang besar. Maka bertakwalah kepaa Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orag-orang yang beruntung" Q.S At-Tabangun 15-16
18. Bersabarlah
Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabat atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan" (H.R At-Tirmidzi dan Ahmad)
19. Tegakkan pendidikan dengan hukuman jika perlu dilakukan, sesuai dengan batasan islam
Memperlihatkan cambuk, Menjewer daun telinga, dan memukul
Diriwayatkan oleh Abudurrazzaq dan ath-Thabrani dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menggantungkan cambuk di dalam rumah, “Gantungkanlah cambuk di tempat yang dapat dilihat oleh seluruh anggota keluarga, sebab itu lebih membuat mereka menurut”
20. Doakanlah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian dan doa orangtua atas anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam Shohih dan Dho’if Sunan Abu Daud hadist no. 1536)
Referensi: prophetic parenting dan kitab tarbiyatul aulad.
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Tips membagi jadwal pekerjaan rumah tangga dengan waktu kebersamaan anak
1. *Lakukan hal-hal penting genting terlebih dahulu di pagi hari*
(misal: masak, menyiapakan bekal, mencuci). Tunda hal penting namun tidak genting setelah kebutuhan anak terpenuhi ( misal beres-beres, cuci piring). Optimalkan waktu siang dengan anak-anak dan sisakan pekerjaan finishing setelah keperluan anak yang mendasar selesai.
2. *Install dalam pikiran bahwa membersamai tumbuh kembang anak adalah pekerjaan utama ibu*
kemudian rumah tangga dilakukan disela sela itu. Bukan sebaliknya pekerjaan rumah tangga yang utama dan mengasuh anak di sela-sela itu. Mengapa? Karena sampai kita meninggal pekerjaan rumah tangga tidak akan habis. Tetapi momentum emas dalam setiap tahapan usia tidak bisa kembali.
3. *Ciptakan supporting system*
yang bisa menemani kegiatan anak saat kita harus mengerjakan pekerjaan yang betul-betul sulit dilakukan bersamaan dengan memperhatikan anak, misal dipegang ayah sepenuhnya. Atau lakukan pekerjaan dengan model seperti ini saat anak-anak benar-benar tidak membutuhkan kehadiran kita seperti saat tidur.
4. *Libatkan anak dalam pekerjaan sehari-hari*
seperti cooking class agar ibu tetap memenuhi kewajiban dalam rumah tangga dan anak tetap merasakan kebersamaan ibu
5. *Jadikan waktu khusus untuk kerja bakti bersama*
yang melibatkan seluruh keluarga.
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Tentang managemen waktu teh kiki barkiah:
1. tidak pernah berhenti bergerak melakukan hal yg bermanfaat
2. Selalu multitasking dalam melakukan sesuatu.
3. Bekerja sama dengan suami, karyawan dan khodimat agar semua peran bisa dilaksanakan.
4. Simple menjalani hidup dan menyederhanakan standar hidup.
5. Berusaha peduli dgn apa yang anak saya lakukan saat saya sedang sibuk sehingga sebisa mungkin anak berkegiatan positif meski saya tidak disamping mereka
6. Menggeser jadwal kantor ke selain waktu homeschooling anak-anak
7. Urusan teknis diserahkan pada orang lain sehingga porsi waktu harian terbesar ada di pendidikan anak-anak
8. Fleksibel dalam urutan waktu, tapi berusaha agar semua daftar kegiatan dapat dilakukan
9. Melibatkan semua anggota keluarga sebagai satu tim
10. Jarang melayani keperluan anak. Anak didorong untuk melakukan sendiri sementara saya mengerjakan pekerjaan kantor
11. Punya padupada aktifitas yg dapat dilakukan secara muktitasking. Misal jadwal menyusu adalah jadwal homeschooling atau menulis. Jadwal olahraga bersama anak adalah perjalanan belanja harian dll.
1⃣0⃣ Bunda Solehah 3
Bagaimana menyikapi suami yang cuek thd pengasuhan anak? Seolah2 pengasuhan telah dia serahkan ke pundak istri. Si suami sudah merasa selesai tugasnya mencari nafkah dan abai thd pengasuhan dan perkembangan anak. Apalagi dia berada di lingkungan para suami tabu ikut mengasuh anak dan membantu pekerjaan domestik. Akibatnya istri merasa sendiri mengasuh anak. Akibatnya istri cepat emosi ketika lelah dg urusan anak dan rumah sementara suami cuek. Bagaimana menyikapi secara benar thd masalah spt ini?
Jawaban : *Teh Kiki Barkiah*
para ayah perlu tau peran mereka yang sesungguhnya. Untuk mempengaruhi pandangan mereka, jawaban no 8 diatas bisa digunakan.
Adapun peran ayah yang perlu di pahami tertuang dalam tulisan saya berikut.
Banyak suami yang rajin mencari nafkah, bahkan sangat lapang dalam memberi nafkah. namun kenyataannya keluarga mereka tidak bahagia. Kenyataannya banyak para ibu yang mengeluh karena memiliki para suami tipe "2:233"
Apa itu suami tipe 2:233?
Suami yang merasa telah menjadi suami yang baik ketika berhasil melaksanakan Q.S Al Baqoroh ayat 233
“Dan kewajiban (orang tua) ayah memberi makan dan pakaian kepada anak dan ibu-ibunya dengan cara yang makruf (baik dan wajar).
(QS Al-Baqarah : 233)
Jika para ayah/suami hanya bertipe "2:233"
lalu siapa yang menjalankan misi 66:6?
misi 66:6? misi pembebasan diri dan keluarga dari siksa api neraka
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Lalu siapa yang harus berupaya keras menjalankan untuk menjaga keluarga dari siksa api neraka?
Jika para ayah/suami hanya bertipe "2:233"
Lalu siapa yang menjalankan misi 12:108? Misi mengajak keluarga kembali kepada Allah
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku yang lurus, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu.’” (Qs. Yusuf: 108)
jadi siapa yang menyiapkan ilmu anak-anak agar dapat diantarkan kembali kepada Allah?
padahal.......
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur" (Q.S An-Nahl 78)
Jika para ayah/suami hanya bertipe "2:233"
lalu siapa yang mengajarkan anak rumus 20:123-124?
rumus 20:123-12? rumus anti sesat, rumus anti celaka.
Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thoha: 123-124)
Jadi siapa yang mengenalkan Allah, mengajarkan tentang petunjuk Allah, mengingatkan peringatan Allah?
Jika para ayah/suami hanya bertipe "2:233"
lalu siapa yang mengajarkan anak rumus 3:31?
rumus 3:31 rumus bahagia
Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [ali Imran : 31].
Jadi siapa yang mengenalkan anak kepada Rasulullah SAW? mengajak anak menapaki cara hidup Rasulullah SAW?
jika para ayah/suami hanya bertipe 2:233
Lalu siapa yang menjalankan misi 20:132
misi 20:132, misi meneggakan tiang agama
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaahaa: 132)
jadi siapa yang melakukan pendidikan shalat?
Jika para ayah/suami hanya bertipe "2:233"
lalu siapa yang menjalankan misi "4:9"?
misi 4:9 misi anti madesu
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS.An-Nisa:9)
Siapa yang fokus mempersiapkan masa depan anak?
Jika para ayah?suami hanya bertipe 2:233
lalu siapa yang fokus menanamkan akidah?
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezaliman yang besar.”
(QS Luqman :13)
lalu siapa yang fokus memperbaiki akhlak anak-anak?
“Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)
lalu siapa yang fokus mempersiapkan mereka menjadi mukallaf saat mencapai baligh?
dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ؛ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ .
Telah diangkat pena dari tiga orang (berikut): dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari orang yang sakit jiwa (gila) sampai ia sembuh, dan dari anak kecil sampai ia dewasa
Hadits shahih riwayat Abu Dawud (4/139 no. 4398), an Nasaa-i (6/156 no. 3432), Ibnu Majah (1/658 no. 2041), dan lain-lain. Dan ini lafazh Abu Dawud. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani t. Lihat Irwa-ul Ghalil (2/4 no.297), dan kitab-kitab beliau lainnya
BETAPA BANYAK PAHALA YANG SEHARUSNYA MILIK AYAH DIAMBIL IBU DAN PARA GURU
BETAPA BANYAK PARA AYAH YANG TIDAK MEMAHAMI BAHWA TANGGUNG JAWABNYA TAK SEKEDAR MISI 2:233
Yang perlu diingat!!!!!!!!
Siapapun yang membantu ayah dalam melaksanakan kewajibannya terhadap keluarga, beban kewajiban itu tetap melekat di pundak kepala keluarga
Siapapun yang membantu ayah dalam melaksanakan kewajibannya terhadap keluarga, tidak akan ada yang menggantikan kita hari pertanggungjawaban
Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (Bukhori, Muslim)
Kiki Barkiah
Apakah ada kolerasi antara kepercayaan diri anak dengan emosi orangtua❓
🌹 *Teh Kiki Barkiah*
Sangat erat kolerasi antara emosi orang tua dengan upaya untuk menumbuhkan kepercayaan diri seorang anak. Mengapa? Karena biasanya emosi orangtua akan berpengaruh pada performa mereka dalam mengasuh anak-anak terutama dalam membangun pola komunikasi .
Apabila kita tidak mampu mengelola emosi, kita akan lebih mudah melakukan komunikasi menyimpang kepada anak-anak. Komunikasi menyimpang seperti menyalahkan, menyudutkan, membandingkan, marah-marah berlebihan, menasehati dengan cara menggurui tanpa mencari tahu akar masalah dan motif seseorang anak melakukan sesuatu, tentu akan berpengaruh pada kepercayaan diri seorang anak. Anak yang terbiasa disalahkan dan disudutkan akan merasa bahwa dirinya tidak berharga.
Banyak orangtua yang jarang sekali memberikan apresiasi poaitif pada anak. Mereka lebih perhatian terhadap kekurangan anak dibanding kelebihan anak. Mereka lebih perhatian saat anak melakukan kesalahan dibanding saat anak melakukan dengan cara yang benar. Anak-anak yang sering mengalami hal ini akan merasa bahwa dirinya tidak berharga.
Dalam kasus yang sangat parah yang pernah saya temui saat seseorang konsultasi pada saya, ternyata komunikasi menyimpang dan pola asuh yang salah berpengaruh pada sikap hidup beliau ketika mulai dewasa. Beliau cenderung pendiam, takut membangun hubungan dengan orang lain, takut salah dalam melakukan sesuatu, bahkan kesulitan untuk bersaing di dunia kerja karena tidak memahami potensi yang ia miliki. Bahkan saat membangun rumah tangga pun ia dihantui oleh rasa takut dan sering merasa tidak percaya diri. Ketidakpercayaan diri ini berawal dari pola asuh yang dibangun oleh komunikasi yang menyimpang. Orang tuanya terlalu galak dan selalu menyudutkan. Sehingga orang tersebut merasa dirinya tidak berharga. Bahkan sampai pada titik ia bertanya kenapa aku harus lahir kedunia ini. Tentunya cukup serius permasalahan seperti ini.
Anak-anak yang terbiasa dalam pola asuh dengan komunikasi menyimpang, juga akan memiliki masalah dalam kemampuan mengambil keputusan, kemampuan menentukan pilihan, kemampuan memecahkan masalah. Karena mereka selalu dihantui perasaan takut salah.
Coba kita bayangkan, ketika kita berada dalam dunia kerja. Kemudian kita memiliki seorang pemimpin yang setiap kali bertemu dengan kita, yang ia lihat hanya kesalahan kita. Tidak pernah mengapresiasi kebaikan yang Kita lakukan. Tentu akan lebih sulit untuk berkreasi dalam pekerjaan kita. Ketika pimpinan tidak pernah menghargai hasil kerja kita, hubungan kita akan cenderung renggang dengan atasan kita. Bahkan sebisa mungkin kita akan menutup-nutupi kekurangan kita pada saat kita melakukan sebuah kesalahan. Hal ini disebabkan adanya perasaan takut terhadap atasan kita.
Begitu pula dalam dunia parenting. Ketika orang tua sering sekali fokus pada kesalahan dan mengomentari dengan cara negatif, bahkan cenderung melupakan potensi positif seorang anak, maka anak pun sulit untuk menghargai dirinya. Mereka juga sulit untuk mengetahui potensi dan kelebihannya. Ini juga terjadi pada orangtua yang tidak meghargai tahapan perkembangan anak. Mereka merasa bahwa anak tidak seharusnya melakukan ini dan itu tetapi lupa untuk menghargai proses. Orangtua berharap anaknya seperti anak orang lain tetapi tidak melihat potensi unik dari seorang anak. Kadang ketika orangtua tidak mau menghargai tahapan anak, mereka mudah menyerah dan menyatakan kekecewaannya di hadapan anak. Padahal sebenarnya anak belum memiliki kompentensi tersebut karena memang belum mencapai tahapan usianya.
Ketika anak sulit mengetahui potensi dirinya, mengetahui minat bakatnya dan tidak menemukan ruang untuk berkreasi dan berekspresikan diri mereka yang sebenarnya, maka mereka sulit untuk melejitkan potensi.
Ketika tidak ada penerimaan akan kesalahan dan kegagalan dalam proses belajajar, maka mereka akan takut mencoba, takut melakukan hal yang baru, takut berkreasi, takut keluar dari sistem, takut melakukan terobosan baru, takut salah dan akhirnya tidak mampu untuk berbuat hal yang istimewa.
Maka mari kita senantiasa menjaga kewarasan kita didalam rumah tangga, agar emosi kita dapat dikelola. Sehingga melahirkan kebijaksanaan dan kesabaran dalam menerima proses, kesabaran untuk mencari tahu akar permasalahan anak agar kita tidak mudah mengambil kesimpulan negatif yang melahirkan pola asuh yang salah.
Allahu'alam
"Teh,bagaimana cara memaksa diri kita utk menerapkan semua ilmu parenting yg telah kita pelajari. Karena seringkali bila sudah marah pada anak, seluruh ilmu parenting itu serasa runtuh di hadapan anak.
Sudah baca ini itu, dengar ini itu, kulwap ini itu, nah saat kondisi saya tidak ok entah itu lelah, sakit, ada pekerjaan yg harus diselesaikan, ada keperluan anak yg lebih kecil yg harus disegerakan, kadang sang kakak mendesak agar keperluannya didahulukan atau mencari perhatian dg melakukan hal2 yg dilarang atau mengganggu adik.
Kalau demikian jadi mudah marah. Lama2 anak sepertinya jadi lebih susah dibilangin. Saya nya jadi lebih marah lagi. Sambil marah itu ingat tu materi2 parenting, tapi anak juga rasanya ngegemesin. Sudah marah2 tapi besoknya anak mengulangi lagi hal yg sama krn sepertinya memang tidak sampai pesan ke anak kalau disampaikan dg marah.
Tapi saya nya tetep aja marah lagi. Suka salut sama ibu2 yg bisa sabar sama anak.
Mohon masukannya ya teh.
Jawaban *Teh Kiki Barkiah*
1. Ubah pandangan ibu terhadap anak. Tidak semua sikap yang tidak sesuai dengan harapan kita adalah kesalahan. Apalagi kesalahan yang perlu ditegur dengan kemarahan. Baca artikel tambahan yang pernah saya tulis tentang cara pandang terhadap anak untuk meningkatkan kesabaran dalam pengasuhan
2. Selesaikan masalah ibu. Banyak emosi negatif yang dikeluarkan saat pengasuhan sebenarnya bermula dari kondisi kita bukan kondisi anak. Pahami kondisi ibu, mana akar masalah yang perlu diselesaikan agar performa ibu di depan anak-anak fit dan prima sehingga minim marah-marah.
9⃣ Novia
Bagaimana caranya untuk benar2 tdk marah dan tdk kesal, jika anak2 membuat suatu kesalahan yg itu2 terus, berulang-ulang mba? Misalnya nih, anak sulung sy, suka sekali meletakkan barang2nya sembarangan,, jadinya ketika mau dipake, tu barang tdk ketemu, jadi seisi rumah ditanyain, atau kalau ngga dia nya jd terlambat k sklh (klo mau k sklh misalnya). Jdnya sy pun jadi uring2an dan ngomel2 ke dia. Pdhl kami sudah menyepakati tempat untuk meletakkan barang2. Dan msh banyak juga mba kasus2 lain dg anak yg lain. Kesel dan marah ya blm mau hilang, pdhl stlh itu rasanya nyesel dan janji ngga akan marah lagi, tp kejadian yg sama msh terulang
Jawaban *Teh Kiki Barkiah*
salah satu penyebab kita mudah marah adalah menaruh ekspektasi terhadap orang lain untuk bersikap dengan cara kita bersikap. padahal setiap manusia unik dan merupakan paket lengkap yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kemudian ekspektasi kita terhadap orang lain juga sering melupakan tahapan usia. Kalau dalam teori personal genetic, ada manusia yang diciptakan seperti saya dan anak ibu. Sering terlupa pada hal-hal yang sepele, mendetail, karena sibuk memikirkan konsep-konsep besar. Melatih orang-orang seperti kami unutk bisa lebih tertib dan rapi silahkan dilakukan, namun berharap memiliki standar yang sama dengan orang-orang seperti ibu, ini yang repot. Dalam hidup saya, saya membutuhkan bantuan orang lain unutk menginatkan hal-hal kecil yang terkadang penting. juga membutuhkan orang-orang yamg siap membantu membereskan sisa-sisa pekerjaan dari karya-karya penting saya. Jika saya jadi anak ibu, dan setiap hari terus menerus dimarahi, saya akan banyak kehilangan moment berharga untuk menciptakan karya. Nah, coba ibu lihat dan kenal lebih dalam tentang ananda. Apakah ananda memang malas melakukan apa yang ibu minta, atau kesalahan yang berulang dimata ibu itu sebagai tabiat alamiah yang sebenarnya tidak ia maksudkan untuk berniat buruk terhadap orang lain. Lihat lagi, adakah kelebihan yang ia miliki da tidak dimiliki orang lain. Jika demikian fokus saja mengembangkan kehebatan potesi dirinya, sehingga kelak ia melahirkan karya besar yang bermanfaat bagi ummat sehingga orang-orang disekitar mereka bersedia memaafkan kesalahan-kesalahan kecil yang ia lakukan. janganbiarkan handuk yang lupa di jemur, sepatu yang lupa disimpan, buku dan pr yang ketinggalan menjadi masalah dasyat yangmeretakkan hubungan kita dengan mereka. Ingatkan terus dan maafkanlah atas ketidaksengajaannya.
lalu bukalah mata kita terhadap kelebihan-kelabihan yang ia miliki yang sering terlupkan karena kita lenih sering ingat pada kesalahannya. Syukurilah kelebihannya jadikan itu sarana mengantar ananda menuju surga.
Komentar
Posting Komentar