Minder Menulis
⏲⏲⏲⏲⏲⏲
*MENGAPA MINDER DALAM MENULIS ?*
@ Cahyadi Takariawan
Sering kali saat belajar menulis, muncul rasa minder pada para pemula. Merasa belum bisa menulis, merasa belum pantas, merasa malu dan lain sebagainya.
Mengapa muncul minder pada proses belajar menulis? Mari saya ajak memahami munculnya rasa minder ini sekaligus menemukan solusinya.
Minder dalam menulis bisa muncul karena faktor internal, bisa juga karena faktor eksternal. Faktor internal berupa persepsi dan citra diri. Sedangkan faktor eksternal bisa berupa persaingan, perbandingan, atau faktor-faktor lain seperti komentar para haters.
Seseorang yang minder melihat dirinya sebagai tidak mampu, tidak bisa, tidak layak, tidak berharga, tidak diterima, tidak dipuja, atau tidak kompeten. Perasaan-perasaan ini menciptakan persepsi serta citra diri negatif, dan pikiran yang kritis terhadap diri sendiri yang akan mempengaruhi tingkah laku serta pilihan-pilihan yang dibuat dalam kehidupan.
Seringkali persepsi negatif itu semakin menurunkan tingkat keyakinan terhadap kemampuan dan kompetensi diri. Maka minder bisa bertingkat-tingkat, dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
*Tiga Sebab Minder dan Solusinya*
Paling tidak ada tiga sebab munculnya rasa minder dalam proses menulis. Berikut saya uraikan secara ringkas sekaligus alternatif solusi yang bisa dilakukan.
*Pertama, persepsi diri yang negatif*
Seseorang menjadi minder dalam menulis karena mempersepsi diri secara negatif. Ketika seseorang memiliki citra diri yang negatif ia menjadi minder untuk menulis.
Misalnya, menganggap diri tidak bisa menulis, menganggap tidak punya bakat menulis, merasa tulisannya selalu jelek dan tidak pantas dipublikasikan. Merasa diri payah, inilah persepsi diri yang negatif. Orang seperti ini sudah kalah sebelum bertanding.
Nah, untuk solusinya, anda harus mengubah persepsi dan citra diri. Bahwa semua manusia itu unik dan istimewa. Semua manusia itu berharga dan bermakna, untuk itulah manusia diciptakan.
Pun dalam karya tulis. Tulisan semua orang itu unik dan spesifik. Masing-masing orang berhak memiliki gaya dan cara menulis yang khas. Itulah sebabnya satu tema yang sama bisa ditulis menjadi jutaan karya yang semuanya berbeda.
Coba anda buka Kompasiana dan cobalah membaca tulisan banyak orang di sana. Dari sana anda akan berlatih percaya, bahwa semua orang berhak punya perspektif, gaya, corak dan cara yang unik serta khas.
Coba lihat tulisan-tulisan mas Baim Saptaman yang ada di Kompasiana. Saya menilai, tulisan beliau unik, dan banyak yang membaca. Termasuk jenis apakah tulisan mas Baim tersebut? Apa dia peduli disebut jenis tulisan apa? Dia tidak peduli. Dia hanya peduli satu hal : selalu menulis.
*Kedua, membandingkan dengan karya penulis hebat*
Sebab kedua munculnya rasa minder dalam menulis adalah membandingkan tulisan kita yang masih pemula dengan tulisan para penulis hebat. Ini sangat sering terjadi.
Maka jangan bandingkan diri secara negatif dengan orang lain. Membandingkan diri dengan yang lebih hebat dari kita, serasa membanting diri sendiri. Bukankah masih banyak yang setara atau bahkan lebih pemula dari kita? Ini membuat kita bersyukur.
Solusi untuk sebab minder yang kedua adalah : jangan bandingkan karya tulis anda yang masih pemula dengan karya orang hebat. Tindakan ini dalam bahasa fiqih disebut sebagai *qiyas ma'al fariq*, membandingkan dua hal yang sangat jauh berbeda. Istilah lainnya, *bainas samaa-i was sumuur*, antara langit dan sumur 😄. Kalo cuma antara langit dan bumi, jadi kurang jauh....
Jika kita membaca karya penulis hebat seperti Gunawan Mohammad, Emha Ainun Nadjib, Jemmy V. Confido, Salim A. Fillah, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Tere Liye, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shairazy dan yang lain-lain, adalah untuk belajar. Benar-benar belajar. Menimba ilmu, _ngangsu kawruh_.
Belajarlah dari karya orang-orang hebat. Gali ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka. Jadi bukan untuk membandingkan karya kita yang pemula dengan karya mereka. Ini sebab mengapa kita minder. Karena memandingkan secara vis a vis tulisan kita dengan tulisan tokoh hebat yang sudah senior dalam dunia literasi.
*Ketiga, terpengaruh kritik dan komentar negatif*
Sebab ketiga yang membuat seseorang menjadi minder adalah karena terpengaruh kritik atau komentar negatif terhadap karya tulisnya.
Ketika seseorang memposting tulisan di suatu media, baik web, blog, medsos ataupun media cetak, muncullah likers dan haters. Apalagi di duna medsos, likers dan haters sudah menjadi penghuni tetap dunia medsos.
Semua orang memiliki likers dan haters di dunia medsos. Sering kali kita sangat senang menerima pujian dan tidak siap menerima kritik serta komentar negatif.
Saat mendapat pujian, kita sangat bersemangat menulis. Namun ketika mendapat kritik dan cemoohan, kita menjadi putus asa dan berhenti menulis.
Solusi untuk sebab ketiga ini adalah : abaikan komentar negatif. Terlebih bagi anda yang bertelinga tipis, jangan baca dan jangan pedulikan kritik pedas dan komentar negatif. Tetaplah menulis dan memposting tulisan anda.
Bukan berarti anda anti kritik dan tidak mau menerima masukan orang lain. Namun karena terdapat dimensi yang sangat berbeda antara kritik yang menjatuhkan dengan kritik yang membangun. Sangat berbeda kondisinya antara celaan dan bimbingan.
Dalam belajar menulis, yang kita perlukan adalah bimbingan, masukan dan kritik yang membangun. Semua ini akan menyemangati kita dalam menulis dan memperbaiki kualitas tulisan.
Saya pernah memiliki pengalaman buruk yang saya sesali hingga kini. Semasa saya masih kuliah, ada adik kelas mulai belajar menulis dan tulisannya berhasil dimuat di sebuah majalah. Dengan bangga ia bercerita dan menunjukkan tulisannya di majalah tersebut kepada saya. Ia minta komentar saya atas tulisan tersebut.
Dengan semangat muda saya, disertai niat untuk menyemangati agar ia menulis lebih baik, saya katakan, "Tulisanmu jelek".
Tidak dinyana, ia menjadi putus asa dan tidak mau menulis lagi. Padahal maksud saya adalah untuk menyemangati. Astaghfirullah, saya sangat menyesal telah mengatakan jelek terhadap karya tulisnya.
Jadi, abaikan saja komentar negatif orang lain. Masing-masing kita berhak memiliki gaya dan cara menulis yang berbeda. Tetaplah menulis dan terus menerus belajar untuk menjadi lebih baik.
Demikianlah tiga sebab minder dalam menulis dan sekaligus upaya solusinya. Semoga kita terhindar dari rasa mider dalam menulis. Semoga kita semua selalu semangat serta produktif menulis.
*Ini tulisanku hari ini. Mana tulisanmu hari ini?*
Ansan City, 23 April 2018
Komentar
Posting Komentar