Kaidah- kaidah dalam Bersabar

*UNTUKMU YANG SELALU BERUSAHA BERSABAR..*

Saudaraku dengarlah renungi firman Allah Ta'ala ini..

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ  ؕ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ . الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ . اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. Al-Baqarah 155-157)

Subhanallah..
Sabar dan usahamu untuk selalu bersabar wahai saudaraku, itulah salah satu penyebab Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintaimu..

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

"Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Qs. Ali 'Imran 146)

Dan selama engkau bersabar, Allah selalu akan bersamamu, meskipun seluruh dunia berusaha menjatuhkan dan membuat makar kepadamu, tapi itu semua tak akan berarti apapun, karena Allah bersamamu..

وَاصْبِرُوْا  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ 

"Dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar." (Qs. Al-Anfal 46)

____________________________

✍ Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

🖥  shahihfiqih.com

Kaidah-Kaidah Dalam Bersabar
Oleh : Ustadz Dr. Abdullah Roy MA hafizhahullah

(1). Meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala,  Dialah yg menciptakan perilaku hamba2Nya, semua tindakan atas kehendak & Izin Nya...

Yang Allah Ta'ala kehendaki pasti terjadi & apa yang tidak dikehendaki pasti tidak terjadi...

(2). Menyadari tentang Dosa Dosa kita, Allah Azza wa Jalla menjadikan manusia mengganggu kita oleh sebab dosa-dosa kita..

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, dan musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oleh Apa yang kalian lakukan yakni dosa kalian, dan Allah banyak memaafkan...

Apabila menyadari maka menyibukkan diri dengan bertaubat dan beristighfar serta tidak membalas celaan mereka...

Musibah hakiki adalah jika dicela kemudian sibuk membalas celaan tersebut bukan dengan bertaubat

Ali bin abi thalib radhiyallahu'anhu,
Jangan mengharap kecuali kepada Rabb, dan tidak takut kecuali kepada dosanya..

Tidak diangkat musibah tersebut kecuali dengan bertaubat...

(3). Menyadari tentang besarnya pahala orang yang memaafkan dan bersabar....

Sikap dalam Menghadapi Manusia :
a. Membalas kejelekan dengan kejelekan yang serupa (setimpal)
b. Memaafkan
c. Membalas kejelekan dengan kejelekan yang lebih dahysat (zhalim)

Ruginya orang yang tidak memaafkan karena pahalanya besar...

(4). Menyadari apabila memaafkan maka akan mengakibatkan keselamatan hatinya dari ghisy, ghil, dendam..

(5). Menyadari bahwasanya tidaklah orang membalas dendam kecuali akan menjadikan dalam hati/dirinya kehinaan...

Jika dia memaafkan maka Allah Ta'ala akan memuliakannya...

(6). Menyadari bahwasanya, balasan sesuai dengan Jenis amalan...

Barangsiapa memaafkan maka Allah Azza wa Jalla akan memaafkannya​, barangsiapa mengampuni seseorang maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuninya​..

(7). Menyadari apabila menyibukkan diri dengan membalas dendam, akan tersia2 umurnya  (menghabiskan waktunya) & pecah2 hatinya, sehingga kehilangan maslahat atas hal2/perkara baik yang tidak mungkin terulang...

Jika menghabiskan waktu untuk membalas maka justru ini adalah musibah yang lebih besar dari celaan mereka...

(8). Menyadari bahwasanya​, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri...

Padahal Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam adalah manusia yang paling mulia..

Kita banyak dosanya jika dicela maka itu memang pantas, sementara Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang maksum saja dicela..

(9). Apabila dicela atas Apa yang dilakukan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka wajib baginya bersabar dan tidak berhak baginya untuk membalas...

(10). Menyadari apabila bersabar maka Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama dengan dirinya dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada dirinya...

11. Menyadari bahwa kesabaran adalah separuh dari keimanan, jika tidak bersabar maka akan kehilangan separuh keimanan...

12. Hendaklah seseorang menyadari bahwasanya kesabaran bisa menguasai dirinya, maka tidak membawa kita pada kebinasaan...

Jika bersabar maka telah mampu mengalahkan dirinya, akan tetapi berlaku sebaliknya jika tidak bersabar..

13. Menyadari bila bersabar Allah lah yang menjadi penolongnya...

Orang yang membalas (tidak bersabar), Allah akan menyerahkan dirinya pada dirinya sendiri maka jadilah dirinya sendiri yang menolongnya, padahal dirinya adalah lemah...

14. Bahwasanya kesabaran kita ini menjadi sebab rujuknya orang yang menzhalimi kita dan menjadikannya menyesal sehingga menjadi teman yang sangat dekat...

15. Mungkin ketika seseorang membalas justru menjadikan tambahnya kejelekan musuh kita...

Tapi kalo dia memaafkan maka akan selamat dari kemudharatan ini...

Orang yang berakal, maka tentunya tidak memilih mudharat yang lebih besar...

16. Orang yang terbiasa membalas dendam, pasti akan terjatuh kedalam kezhaliman karena jiwa tidak mencukupkan pada kadarnya...

17. Kedzaliman yang menimpanya menjadikan sebab diampuni dosanya dan diangkat derajatnya...

18. Pemaafan dan kesabaran dia adalah pasukan yang paling besar bagi dirinya...

Karena sesungguhnya memaafkan & kesabaran menjadi sebab terhinanya musuh, serta akan menjadikan musuh takut ...

19. Apabila memaafkan maka musuh akan merasa kita berada diatasnya dan dia akan merasa dibawah kita.

20. Apabila seseorang memaafkan ini adalah hasanah/pahala bagi dirinya.

Karena kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain dan seterusnya...

Karena kejelekan akan melahirkan kejelekan yang lain dan seterusnya...

📝 Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,
“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

📚 Faidah Dauroh Kitab Qa'idatun Fis Shabr Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hari

Mager

Cerita tetangga lahiran