Menjadi Sahabat Anak by Lita Edia
Menjadi Sahabat Anak
Setiap orangtua tentu memiliki harapan agar Anak berbakti kepada orangtua, sepanjang hayat.
Do’a meluncur indah dari lisan anaknya, karena cinta tanpa syarat dan tak terhalang rasa benci.
Bersyukur bisa menua didampingi mereka, saling mengasihi dan mendukung.
Bagaimana anak agar bisa jatuh hati kepada kita, mencintai kita tanpa syarat dan tak ada rasa benci kepada kita?
Salah satu ikhtiarnya adalah dengan menjalin relasi erat dengannya bagaikan sahabat.
Sahabat…
Jika kita mendengar kata tersebut, apakah yang kita bayangkan?
Sosok yang penuh dukungan dikala susah dan senang?
Nah, mungkinkah kita menjadi sahabat anak, sementara secara alami, tidak selalu kita mendukung perasaan dan perilaku anak. Mengapa? Karena tidak semua perilaku dan perasaan kita bisa kita terima.
Sulit kita menerima keramaian anak karena berebut mainan kala kita sedang ngantuk ngantuknya
Sulit kita menerima kerewelan anak saat kita ada tamu yang berkunjung
Apakah kita bisa selalu bersikap mendukung anak?
INGIN TAPI SULIT. Ini jawaban yang biasanya diperoleh orangtua.
Tidak mungkin semua perilaku kita didukung anak, namun kita perlu melatih diri dengan teknik teknik yang bisa menyampaikan sikap kita dengan cara yang diterima anak.
Cara yang akan dipersepsi bahwa kita adalah sosok yang paling nyaman untuk diajak bicara kala ia mengalami masalah, sosok yang akan memahami dirinya seutuhnya.
Ada tiga hal yang perlu dilatih yaitu MENDENGAR AKTIF, fokus pada KERJASAMA dan RESPONSIF terhadap kebutuhan anak
Mendengar aktif dilakukan dengan cara:
1.kita posisikan diri kita menghadap diri anak dengan posisi sejajar dengan anak
2.kita bisa menunjukkan bahwa kita memperhatikan apa yang ia katakan
“Oh..”, “hmm..”, “begitu…”
3.Tidak memotong hal yang ia ungkapkan
4.Kenali perasaan mereka
5.Konfirmasikan perasaan mereka “kamu marah ya …”, “kamu sedih ya diejek…”, “kamu kesal ya mainannya direbut”
6.Hindari menghakimi, dan melabel negatif
Fokus membentuk kerjasama dilakukan dengan cara:
1.Jabarkan
Masalah: Anak setelah bermain di dalam, berantakan, langsung pergi saja meninggalkan mainan dan kemudian bermain di luar rumah
A. Kakaaak, ini gimana sih kok ngga diberesin, berantakan banget. Ayo bereskan duluuu! Kalau habis main bereskan dulu, kalau ngga ibu buang nih mainannya
B. Wah ibu jadi sulit berjalan nih, menginjak mainan terus. Yuk bereskan (jabarkan fakta yang berkaitan dengan perilaku anak, secukupnya)
2.Informasikan
Setelah mengambil susu UHT 1 liter dari kulkas, tidak dikembalikan lagi ke kulkas
A. Siapa ini yang tidak mengembalikan susu ke kulkas, sudah ibu beritahu berulang kali, selalu saja lupa…
B. Susu kalau tidak disimpan di kulkas nanti basi kak, ayo disimpan lagi (Informasikan hal yang berkaitan dengan mengapa suatu hal perlu dilakukan)
3.Kata kunci
Anak tidak mematikan lampu yang sudah tidak digunakan
A. Duuuh kamu, bisa ngerti ngga sih, kalau lampu tidak dipakai itu dimatikan duluuu
B. Lampunya Kak! (gunakan satu dua kata saja untuk mengingatkan)
4.Ungkap perasaan
Anak lupa waktu, terlalu banyak main games sampai berjam jam
A. Kamu yaaa, kalau sudah main selalu lupa waktu, bisa ngga sih main kamu mengatur waktu, selalu saja begini, ini kecanduan namanya, dst
B. Ibu khawatir kalau kamu bermain sampai lupa waktu, nanti tugas yang lain lupa dikerjakan (Ungkap perasaan kita yang sebenarnya, sebelumnya pastikan kita mengenali perasaan kita)
5.Tulis pesan
Menuliskan pesan di tempat yang strategis. Misal: “setelah makan, cuci piringnya”
Untuk hal yang ketiga yaitu responsif, diperlukan beberapa informasi berkaitan dengan kebutuhan anak perusia. Kebutuhan ini didasari oleh perkembangan otak anak dalam setiap usianya dan berdasarkan informasi dari teori teori perkembangan yang ada.
Komentar
Posting Komentar